Sifat Mukmin

Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul. Sehingga di mana pun ia berada, kemana pun ia pergi, apa pun yang ia lakukan, peran dan tugas apa pun yang diembannya akan selalu membawa manfaat dan kemaslahatan bersama.Rasulullah bersabda:”Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap ditempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).”(HR.Ahmad, Hakim dan al-Bazzar)

Ungkapan hadits tersebut di atas mengisyaratkan kepada kita agar mencontoh sifat-sifat yang dimiliki oleh lebah. Sifat yang dimiliki oleh lebah sebagai berikut:

1. Lebah hinggap di tempat yang bersih dan menyerap yang bersih pula.Bila memperoleh amanah ia akan menjaga dengan sebaik-sebaiknya, tidak korupsi (mencuri), tidak menipu dan berdusta. Sebab, jika ia melakukan hal tersebut, maka segala hasil dari perbuatannya tersebut merupakan khobaits (kebusukan)

2. Lebah mengeluarkan yang bersih yang kita kenal dengan yang namanya “Madu”. Setiap apa yang keluar dari dirinya baik itu ucapan, tingkah lakunya adalah kebaikan. Hati jauh dari prasangka buruk, iri, dengki, prilaku yang tidak menyengsarakan orang lain.

3. Lebah tidak pernah merusak dimanapun tempat yang dihinggapinya.

4 . Lebah adalah pekerja keras.

5. Lebah bekerja secara berjamaah dan hanya tunduk pada satu pimpinan. Hidup lebah selalu dalam kelompok besar, tidak pernah menyendiri dan ketika mendapatkan sumber sari madu mereka akan memanggil temannya yang lain untuk menghisapnya.

6. Lebah tidak pernah melukai kecuali diganggu. Lebah tidak pernah memulai menyerang kecuali bila mereka diusik. Untuk mempertahankan kehormatannya, Mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang.

Ikhlas karena Allah merupakan tujuan hidup dari setiap mukmin dalam segala aktifitas kehidupannya.

إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku karena Allah Tuhan semesta alam”.

Keistimewaan Orang Beriman

Keistimewaan Orang yang Beriman

Suatu keistimewaan buat kita orang beriman bahwa Allah telah memilih kita dari sekian banyak manusia yang ada di alam semesta ini, dengan dianugrahkannya iman kepada kita. Suatu nikmat yang diperoleh bukan karena nasab, status, harta, dan ilmu. Akan tetapi, karunia dari yang Maha Memberi Anugrah. Maka apakah layak orang yang dipilih dan diistimewakan Allah, dientaskan dan diselamatkan dari kekufuran dan diberikan petunjuk, merendahkan nikmat yang agung ini? 

Sesungguhnya orang yang sudah diberi nikmat iman dan islam oleh Allah wajib merasa takut dan khawatir jika nikmat itu hilang. Karena musibah terbesar dan terberat adalah musibah agama, musibah yang menyebabkan seseorang murtad (keluar dari Islam), terjatuh kedalam jurang fitnah, syubhat, syahwat dan maksiat, setelah adanya hidayah dan istiqomah. Untuk itu ia senantiasa termohon kepada Allah dengan hati dan lisannya:”Ya Robb, Ya Robb.”

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ اْلوَهَّابُ (ال عمران:٨

“Ya Tuhan kami, jangan Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia)”.(QS. Ali Imron:8)

Milik Kita yang Abadi

Suatu ketika Ali ra bertanya kepada muridnya: “Kalau ditangan saya ada uang sepuluh dirham, lalu saya sedekahkan 3 dirham, berapa sisa uang saya?” Muridnya menjawab:”tujuh dirham”. Ali ra berkata:”salah, yang benar uang saya tiga dirham karena apa yang saya sedekahkan itulah yang sudah pasti tercatat sebagai amal saleh, sedang selebihnya belum pasti”.
Dialog ini memberi pelajaran yang sangat berharga buat kita. Bahwa setiap apa yang kita miliki di dunia ini berupa titel, pangkat, jabatan, kedudukan, harta benda, uang, rumah, mobil dsb, yang selalu dikejar dan disimpan sebagai kekayaan. Tak jarang energi dan waktu kita terkuras habis untuk hal yang demikian. Sementara usia atau umur kita kian hari kian berkurang dan secara praktis akan mendekatkan kita pada kematian.

Ketika jasad dikubur diliang lahan semua yang kita miliki akan tinggal. Takkan ada yang kita bawa, mobil yang kita punya hanya mengantarkan kita sampai ke pemakaman, keluarga, istri, anak, kaum kerabat perlahan akan meninggalkan kita begitu usai pemakaman. Tinggallah kita sendiri di ruang yang sepi, senyap, pengap, gelap gulita yang ukurannya pas seukuran kita.

Oleh karena itu, agar apa yang kita miliki menjadi milik abadi adalah dengan bersedekah atau membelanjakan harta di jalan Allah, membangun pesantren, sekolah, fasilitas umum, masjid dsb. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:”Siapa yang membangun masjid, maka Allah akan membangun rumah baginya di surga”.

Rasulullah saw juga mengajarkan kita agar seorang yang meninggal hendaknya mewariskan ilmu yang bermanfaat, harta yang dibelanjakan untuk keperluan umat, anak atau generasi yang sholeh. Itulah amalan yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah tiada.

Wallahu’alamubisshowab

Adil

Adil adalah istilah khas yang terdapat banyak sekali dalam al-Qur’an, di antaranya Allah swt berfirman:

إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذى القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغى يعظكم لعلكم تذكرون  

“Sesungguhnya Allah memerintahkan (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan dan memberi kepada keluarga yang dekat dan Allah melarang dari perbuatan keji dan kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran agar kamu dapat mengambil pelajaran (Q.S. An-Nahl:90)

Prof. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, menjelaskan tentang adil dalam ayat ini, yaitu “menimbang yang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar, mengembalikan hak kepada empunya dan jangan berlaku zalim dan aniaya”. Lawan dari adil adalah zalim, yakni memungkiri kebenaran karena hendak mencari keuntungan bagi diri sendiri.

Adil dalam Islam bukan berarti sama rata, sama rasa sebagaimana konsep adil perspektif dunia barat. Jika konsep adil dipahami dalam kerangka pandangan barat maka akan berubah makna adil itu sendiri. Misalnya, sejumlah aktivis yang menuntut kesetaraan gender, dsb. Dalam Islam, laki-laki berhak menjadi imam sholat bagi laki-laki dan perempuan adalah adil. Menurut konsep lain, bisa dikatakan tidak adil. Untuk itu, penggunaan bahasa atau istilah Islam perlu mendapatkan perhatian agar jangan sampai terjadi kekeliruan dalam memahami hakikat dan makna yang sesungguhnya.

Menjemput Kematian

image

Kematian akan hadir kehadapan siapa saja tidak pandang tua, muda, kaya, miskin, sehat atau pun sakit. Tidak pula memandang situasi dan kondisi tertentu yang pasti ia akan hadir tepat pada waktu yang telah ditentukan Allah swt, tanpa bisa dimajukan dan dimundurkan meskipun sesaat.
Saat ajal menjelang berarti hilang sudah kesempatan emas untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal ibadah. Imam Ghozali berkata: “Demi Allah, seandainya jenazah yang kalian tangisi bisa berbicara sekejap, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”.
Kematian adalah gerbang menuju kehidupan yang kekal dan abadi. Pada saat itu, manusia akan menyesali kehidupannya di dunia. Allah swt berfirman:
حتى إذاجاء أحدهم الموت قال رب ارجعون لعلى أعمل صالحا فيما تركت كلا إنها كلمة هو قائلها ومن ورائهم برزخ إلى يوم يبعثون
“Hingga apabila kematian datang padanya. Seorang dari mereka berkata; Ya Tuhanku, kembalikan aku ke dunia agar aku beramal sholeh terhadap apa yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai mereka dibangkitkan”.(QS.Al-Mukminin:99-100)
Untuk itu, hendaklah setiap kita mempersiapkan diri dengan bekal atau persiapan untuk menuju kematian di antaranya:
1. Segera bertaubat, memohon ampun atas segala bentuk dosa yang pernah diperbuat.
2. Menjaga kemurnian tauhid dengan meniadakan sesembahan selain Allah swt.
3. Menjaga sholat lima waktu karena sholat adalah tiang agama. Bila sholat baik maka baiklah semua amal ibadahnya sebaliknya jika sholat rusak maka rusak pula seluruh amal ibadajnya
4. Menunaikan zakat. Harta adalah titipan yang harus digunakan sesuai dengan petunjuk Allah. Harta yang kita nafkahkan di jalan-Nya pada hakikatnya itulah yang akan menjadi milik kita di akhirat.
Wallahua’lamu bi As-showab

Al-Qur’an sebagai Harapan dan Tantangan

image
Membumikan Al Qur'an sebagai Harapan dan Tantabga

Al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai pedoman bagi ummat manusia dalam menata kehidupannya baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Al-Qur’an tidak hanya mengatur masalah ibadah ritual seperti ibadah sholat, puasa dan lain sebagainya. Akan tetapi, al-Qur’an menyangkut seluruh aspek kehidupan berkaitan dengan masalah sosial, ekonomi, politik  dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ringkasnya al-Qur’an merupakan konsep yang sempurna dan akan senantiasa relevan dengan situasi dan kondisi setiap zaman. Sebagaimana Allah swt berfirman:
اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتى ورضيت لكم الإسلام دينا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Kecukupan nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi islam itu jadi agama bagimu”.(al-Maidah:3)
Rasulullah saw bersabda:
تركت فيكم أمرين ماإن تمسكتم بهما لن تضلوا أبدا كتاب الله وسنتى
“Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang jika kamu berpegang teguh padanya keduanya kamu tidak tersesat selama-lamanya kitabullah dan sunnahku”
Maka, tatkala manusia mencari pedoman lain selain dari pada al-Qur’an dan Sunnah yang terjadi adalah kerancuan, kemerosotan yang berujung pada kehancuran.
Islam dalam sejarah pernah menjadi pusat peradaban dunia lebih kurang selama tujuh abad. Namun, dengan kemajuan yang diraih ummat Islam pada saat itu menjadikan mereka larut dalam kemegahan dan kesenangan. Menyebabkan mereka lalai dari musuh Islam yang senantiasa berjaga menunggu waktu yang tepat untuk meruntuhkan kekuasaan Islam. Ummat Islam secara perlahan mengalami degradasi dan akhirnya ditandai dengan runtuhnya khilafah ustmany.
Pada hakikatnya ummat Islam tidak akan pernah mengalami kemunduran, bila ummat Islam berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah. Sebagaimana yang pernah di ungkapkan oleh Napoleon Bonaparte:
“Apa yang saya pahami dari Kitab ini adalah, saya merasa apabila kaum muslimin menjalankan ajaran kitab ini, maka mereka tidak akan pernah terhina. Selama al-Qur’an berkuasa dalam kehidupan kaum muslimin maka mereka tidak akan pernah tunduk kepada siapapun termasuk kepada kita orang-orang barat. Kita hanya akan dapat menundukkan mereka kaum muslimin dengan cara menjauhkan mereka dari al-Qur’an”.
Untuk mewujudkan ummat Islam sebagai ummat yang terbaik tentu bukan dengan cara duduk bermalas-malasan dan berpangku tangan. Apalagi negeri yang sangat kita cintai ini sedang mengalami krisis multi dimensi mulai dari krisis ekonomi, krisis kepercayaan dan lain sebagainya lebih parahnya lagi adalah krisis akhlak. Apa yang terjadi pada orang tua dan guru-guru kita saat ini. Anak yang menuntut orang tua bahkan tega membunuhnya, begitu juga sebaliknya orang tua yang membuang anaknya, siswa yang memperkarakan gurunya bahkan membunuhnya dan masih banyak kasus lagi yang terjadi.
Merosotnya moral bangsa kita ini, tidak lain karena semakin jauhnya kita dari al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup yang kita yakini.
Kita mulai dari diri sendiri dengan hiasi hidup dan kehidupan kita, anak-anak kita dengan al-Qur’an dan Sunnah Rosul-Nya untuk meraih ridho Ilahi.
Wallahu’alamubisshowab

Bahaya Memperturutkan Hawa Nafsu

image

Sebelum menciptakan manusia, Allah terlebih dahulu menciptakan akal dan nafsu. Dalam hadits Qudsi Allah bertanya kepada akal:من أنت ومن أنا؟ (Siapa kamu dan siapa saya?). Akal menjawab: أنا عبد وأنت رب (saya hambamu dan Engkau Tuhanku). Kemudian Allah bertanya kepada nafsu dengan pertanyaan yang sama. من أنا ومن أنت؟ (siapa saya dan siapa kamu?) nafsu menjawab: أنا أناوأنت أنت (saya ya saya, kamu ya kamu) lalu Allah memasukkannya ke dalam api neraka dan membakarnya selama 1000 tahun. Kemudian Allah mengeluarkannya dan kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama. Jawabannya tetap sama seperti semula (saya ya saya, kamu ya kamu). Lalu Allah swt memasukkannya ke dalam neraka yang sangat dingin selama 1000 tahun, kemudian Allah mengeluarkannya dan bertanya kembali dengan pertanyaan yang serupa. Ternyata, jawaban nafsu tetap dan tidak membuatnya berubah sama seperti jawaban semula. Lantas, Allah memasukkannya kembali ke dalam neraka dengan tidak diberi makan selama 1000 tahun lagi, lalu Allah mengeluarkannya dan Allah swt bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama, barulah nafsu menjawab: “Ana Abdun wa anta Robbun”. (Saya hamba-Mu dan Engkau adalah Tuhanku). Demikianlah keadaan nafsu.
Meskipun demikian, nafsu merupakan karunia Allah buat manusia. dengan adanya nafsu manusia memiliki keinginan. Namun, bila nafsu ini tidak dikendalikan maka akan mendatangkan  keburukan serta dapat menjerumuskan manusia kepada berbagai sikap-sikap tercela berupa munculnya sikap tidak malu berbuat keji, suka merusak, suka mengharapkan pemberian orang lain, rakus, penjilat, busuk hati, iri, dengki, membuat makar, mencari-cari dalil yang bukan-bukan, korupsi, mengambil hak orang lain yang bukan menjadi  haknya.
Ibnu Rajab berkata, seluruh maksiat timbul dari sikap mendahulukan nafsu di atas kecintaan terhadap Allah swt dan Rosul-Nya.  Allah swt berfirman:
أفرأيت من اتخذ إلهه هواه وأضله على علم وختم على سمعه وقلبه وجعل على بصره غشاوة فمن يهديه من بعد الله أفلا تذكرون
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah mengunci mati mata, pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang memberi petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?(QS. Al-Jatsiyah:23)
Seringkali nafsu yang tidak terkendali ini mengalahkan potensi kebaikan yang dimiliki manusia itu sendiri berupa hati dan akal. Hati dan akal adalah cahaya penerang tatkala manusia berada dalam kegelapan, menjadi penyeimbang dikala manusia dalam kebimbangan dan keraguan. Namun, akal dan hati akan tertutup bila nafsu ini di biarkan dan akan melahirkan berbagai prilaku yang negatif, sebagaimana sabda Rasulullah saw;
إن فى الجسد مضغة اذا صلحت صالح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهى القلب
“Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal daging yang apabila baik maka baik pula seluruh perbuatannya dan jika ia rusak maka rusak pulalah seluruh perbuatannya, itulah qolbu”
والله أعلم بالصواب

Kiat Puasa Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang paling mulia penuh dengan keberkahan, rahmat dan ampunan dari Allah swt. Hari-harinya adalah paling utama, malam-malanya adalah malam paling utama serta waktu-waktunya adalah yang paling utama. Pada bulan ini, kita menjadi tamu-tamu Allah swt untuk itu kita dimuliakan oleh-Nya. Setiap hembusan dan tarikan nafasnya orang yang berpuasa adalah tasbih, tidurnya adalah ibadah, amal ibadahnya diterima dan doanya diijabahkan oleh Allah swt.
Sabda Rosulullah saw:
قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌمُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ فِيْهِ يُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ اْلجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ اْلجَحِيْمِ وَتَغُلُّ فِيْهِ الشَّيَطِيْنَ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ (رواه أحمد)

“Telah datang kepadamu bulan ramadhan, bulan yang mulia yang mana Allah wajibkan bagimu untuk mempuasakannya, bulan tersebut dibukakannya pintu-pintu surga, dikuncinnya pintu-pintu neraka dan dibelunggunya syaithan, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Barang siapa yang tidak diberikan kebaikan selama bulan tersebut berarti telah tidak diberikan kepadanya segala bentuk kebaikan”. (HR. Ahmad)

Dengan kutamaan bulan ini maka setiap muslim dipenjuru dunia senantiasa menantikan kehadirannya dan tentunya kita sebagai muslim yang baik, tidak akan melewatkan begitu saja momen ramadhan ini. Agar ramadhan tahun ini dapat kita manfaatkan dengan baik tentunya ada beberapa kiat yang harus kita persiapkan. Karena, persiapan merupakan tahap awal yang penting dalam pencapaian visi, misi dan tujuan. di antaranya sebagai berikut:
1. Niat
Rasulullah saw bersabda:
إِنَّمَااْلأَعْمَالُ بِالنِّيَات
“Sesungguhnya amal dengan niat”
Puasa bukan hanya sekedar ritual belaka, ajang menggugurkan kewajiban tanpa menghayati dan meresapi esensi ibadah tersebut. Untuk itu, niat sangatlah penting dalam melakukan setiap amal perbutan kita. Karena hasil dari suatu amal perbuatan tergantung dengan niat kita. Niat tersebut tentunya harus disertai pula dengan kesungguhan menjadikan ramadhan tahun ini sebagai musim untuk menghasilkan berbagai kebajikan. Anggaplah ramadhan tahun ini sebagai ramadhan terakhir buat kita, sehingga tertanam tekad yang disertai dengan keikhlasan untuk konsisten dalam beribadah dan beramal sholeh.
2. Taubat
Bertaubat kepada Allah swt semestinya kita lakukan setiap saat bukan pada waktu-waktu tertentu saja. Akan tetapi, bertaubat sebelum masuk ramadhan adalah hal yang utama agar kita bertemu dengannya dalam keadaan bersih dari noda dan dosa yang mengotori jiwa kita. Allah swt berfirman:
تُبُوْا إِلَى اللهِ جَمِيْعًا أَيُّهَااْلمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“dan bertaubatlah kamu sekalian wahai orang yang beriman supaya kamu beruntung (QS. An-Nur:31)
Jiwa yang bersih serta hati yang ikhlas adalah modal yang sangat berharga untuk memasuki bulan ramadhan.
3. Mempersiapkan mental dan spiritual
Ibada puasa membutuhkan persiapan mental dengan menanamkan tekad yang bulan untuk menjadikan ramadhan sebagai sarana untuk memperbaiki diri. Persiapan spiritualnya dengan membekali diri dengan ketentuan, aturan dan hukum puasa, adat dan etika serta amalan yang biasa dilakukan Rasulullah selama bulan puasa.
4. Mempersiapkan ilmu
Pemahaman yang memadai seputar ramadhan seperti amalan wajib, amalan sunnah, hal-hal yang membatalkan dan mengurangi nilai puasa, zakat, infaq dan shodaqoh sangatlah penting dalam ibadah puasa. Sehingga dalam melaksanakan amalan ibadahnya tidak sia-sia. Sabda Rasulullah saw:
اْلعَمَلُ بِلَا عِلْمٍ مَرْدُوْدٌ
“Amalan yang tidak berdasarkan ilmu ditolak”

Wallohua’lamubisshowab