​Mengikuti Nafsu dan Melakukan Dosa

Syahwat dan dosa merupakan penyebab kerusakan hati. Allah swt berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jatsiyah:23).
Semua dosa, baik yang besar maupun yang kecil itu mengeruhkan dan merusak hati. Maka, setiap orang yang beriman wajib meninggalkan dosa lahir maupun yang batin, apalagi dosa-dosa hati yang sangat berbahaya. Di antara dosa hati yang tersembunyi adalah riya’ yang dapat merusak amal, ujub yang bisa menjadikan amal bagai abu yang bertebaran, iri, dengki, yang dapat menghapus pahala pahala kebajikan dan memperbanyak dosa.

Dosa adalah penyebab keras hati sehingga menghalangi nasehat yang diberikan sehingga tidak bisa menimbulkan kesan apapun. Bila kematian disebut, hati tidak lagi merasa ngeri dan tidak pula gentar dan tidak pula gemetar bila mendengar janji-janji balasan dari Allah. Rasulullah saw bersabda: “Yang paling jauh kepada Allah adalah hati yang keras”. Beliau juga bersabda: “Empat perkara menjadi tanda kejahatan yaitu : hati yang keras, mata yang beku, senantiasa berandai-andai dan panjang angan-angan”.

Dalam hadist lain Beliau bersabda: “ Ingatlah! Bahwa Allah tidak akan menerima doa dari hati yang lalai” 

Hati yang lalai adalah hati yang tidak tahu diri dan tidak sadar manakala diingatkan dengan petunjuk berupa perintah dan larangan Allah. Ia tidak akan pernah mengindahkan nasehat-nasehat, karena hatinya telah dibelenggu oleh sifat lalai dan lupa kepada Allah.

Wallohu’alamu bi as Sowaab

Advertisements

Bahaya Membiarkan Maksiat

Membiarkan perbuatan maksiat yang terjadi di depan mata tanpa adanya kepedulian sama artinya kita ikut berperan dalam kemaksiatan tersebut

Allah swt berfirman

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah diri kalian dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal [8]: 25)

Imam Ibn Katsir (w. 774 H) menyatakan bahwa ayat ini merupakan peringatan dari Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman tentang fitnah, yaitu ujian dan bencana, yang tidak hanya dikhususkan bagi ahli maksiat dan pelaku dosa saja, namun berlaku umum, terhadap orang yang melakukan kemaksiatan ataupun tidak.

Hal ini terjadi karena orang-orang yang tidak melakukan perbuatan dosa tadi tidak berupaya mencegah dan menghentikan kemaksiatan para ahli maksiat.

At-Thabari (w. 310 H) menyampaikan sebuah riwayat dari Ibn ‘Abbas tentang ayat ini, Ibn ‘Abbas berkata: “Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk tidak mendiamkan kemungkaran yang tampak di hadapan mereka, jika demikian (tetap mendiamkan) maka Allah akan menimpakan azab yang berlaku umum.”

Dari penjelasan di atas, cukup jelas buat kita bahwa ayat ini merupakan peringatan kepada kita, agar kita tidak membiarkan kemaksiatan dan kemungkaran merajalela di sekitar kita.

Jika ada yang menyatakan bahwa Allah ta’ala berfirman: wa laa taziru waaziratun wizra ukhraa (dan seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain) atau kullu nafsin bimaa kasabat rahiinah (tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya). 

Maka, menurut al-Qurthubi (w. 671 H), jawabannya adalah bahwa seseorang yang melihat kemungkaran merajalela, ia wajib mengubahnya, dan yang berdiam diri terhadap kemungkaran tersebut juga terkategori orang yang bermaksiat. Ia berdosa karena ridha terhadap kemaksiatan yang ada disekitarnya.

Kewajiban mengubah kemungkaran ini juga telah dinyatakan oleh Rasulullah saw dalam salah satu hadits shahih:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah ia dengan tangan, jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu, maka dengan hati (dengan menunjukkan ketidak ridhaan terhadap kemungkaran tersebut), dan itulah selemah-lemah iman.”

Mengenai dampak buruk dari mendiamkan kemungkaran antara lain:

1. Mendiamkan kemungkaran akan dinilai sama seperti orang yang melakukan maksiat walau tidak melakukannya secara langsung. Karena sebagaimana wajib menjauhi maksiat, maka wajib pula mengingkari orang yang melakukan maksiat.

2. Mendiamkan kemungkaran sama halnya menganggap remeh kemungkaran.

3. Mendiamkan maksiat, maka samalah artinya membiarkan perbuatan tersebut akan semakin meluas.

4. Jika orang berilmu dan paham agama mendiamkan maksiat dikhawatirkan nantinya maksiat itu dianggap bukan maksiat, parahnya nanti bisa dianggap sebagai perbuatan baik.

5. Perlu diingat bahwa perbuatan buruk itu menular

Dahsyatnya Kekuatan Do’a

Tatkala tiada seorang pun yang peduli denganmu dan tiada yang dapat membantumu maka yakinkanlah di dalam hatimu bahwa masih ada yang akan mendengarkan rintihan hatimu yakni Dzat yang Maha Melihat dan Maha Mendengar setiap untaian doa-doamu, itulah Dia Allah swt pemilik kehidupan dan pemilik segala sesuatunya. Mohonlah kepada-Nya karena Dia merindukan lantunan, rintihan serta harapan dari setiap permohonanmu.

Manusia adalah makhluk yang memiliki segudang kelemahan dan keterbatasan seperti kesulitan, kesusahan, dan lain sebagainya seperti penyakit yang tak kunjung sembuh, jodoh yang tak kunjung datang, hutang yang tak terlintas, jabatan yang tak kunjung naik, anak keturunan yang tak kunjung lahir serta kesempitan hidup lainnya dsb.

Pada saat peristiwa tersebut terjadi, tak jarang manusia dibuat bingung, linglung, bahkan kehilangan kesabaran dan kontrol diri. Manusia mengalami shok, mentalnya jatuh, jiwanya rentan terhadap berbagai penyakit mental dan spiritual. Itulah diantara kekurangan dan kelemahan manusia. Meskipun demikian, Allah dan Rosul-Nya telah mengajarkan kepada kita bahwa jalan untuk mendapat kekuatan maha dahsyat tersebut adalah do’a. 

Doa adalah jalan pintas tercepat, mudah dan murah bagi manusia untuk menggapai keinginan dan menjauhkan dirinya dari marabahaya. 

Doa adalah senjata bagi orang yang lemah, miskin dan terdzolimi. Ia membuat orang yang lemah menjadi kuat, yang miskin menjadi kaya, yang bodoh menjadi pandai, yang sulit menjadi mudah, yang sempit menjadi lapang, yang terancam menjadi selamat, yang bercita-cita dikabulkan. 

Doa merupakan senjata yang paling ampuh dalam menjalani kehidupan di dunia ini sebagaimana sabda Rasulullah saw:

الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ

“Doa adalah senjata orang beriman”

Allah swt kerapkali mengisahkan arti pentingnya doa bagi keselamatan manusia dari segala bencana dan marabahaya sebagai contoh dengan menggambarkan penumpang kapal yang tengah diamuk badai angin yang amat kencang serta gelombang ombak laut yang ganas. Pada saat itu, mereka memutuskan harapan kepada sesama penumpang kapal, kepada manusia yang berada di daratan. Pada saat itu, hanya ada satu-satunya harapan yang tertuju yakni kepada Allah. Maka doa yang tulus disertai kerendahan hati, rasa kefakirannya pun melantun lembut dari bibir dan lisan mereka. Allah yang Maha Pengasih mendengar rintihan dan tangisan mereka, langsung mengabulkan doa mereka. Demikianlah kedahsyatan doa dalam menghindarkan manusia dari malapetaka, malapetaka yang akan menimpa mereka. 

Peranan doa begitu vital bagi kehidupan manusia, terlebih pada saat dirundung berbagai masalah dan kesengsaraan. Karena doa menandakan ketundukan hati, penyerahan diri, dan keyakinan penuh akan kuasa Allah swt.  Dengan demikian, doa merupakan inti ibadah, yaitu ketundukan, kepasrahan, serta kerendahan diri seorang hamba di hadapan Kholiq-Nya

Wallohua’lamu bi As-Showab

Sifat Mukmin

Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul. Sehingga di mana pun ia berada, kemana pun ia pergi, apa pun yang ia lakukan, peran dan tugas apa pun yang diembannya akan selalu membawa manfaat dan kemaslahatan bersama.Rasulullah bersabda:”Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap ditempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).”(HR.Ahmad, Hakim dan al-Bazzar)

Ungkapan hadits tersebut di atas mengisyaratkan kepada kita agar mencontoh sifat-sifat yang dimiliki oleh lebah. Sifat yang dimiliki oleh lebah sebagai berikut:

1. Lebah hinggap di tempat yang bersih dan menyerap yang bersih pula.Bila memperoleh amanah ia akan menjaga dengan sebaik-sebaiknya, tidak korupsi (mencuri), tidak menipu dan berdusta. Sebab, jika ia melakukan hal tersebut, maka segala hasil dari perbuatannya tersebut merupakan khobaits (kebusukan)

2. Lebah mengeluarkan yang bersih yang kita kenal dengan yang namanya “Madu”. Setiap apa yang keluar dari dirinya baik itu ucapan, tingkah lakunya adalah kebaikan. Hati jauh dari prasangka buruk, iri, dengki, prilaku yang tidak menyengsarakan orang lain.

3. Lebah tidak pernah merusak dimanapun tempat yang dihinggapinya.

4 . Lebah adalah pekerja keras.

5. Lebah bekerja secara berjamaah dan hanya tunduk pada satu pimpinan. Hidup lebah selalu dalam kelompok besar, tidak pernah menyendiri dan ketika mendapatkan sumber sari madu mereka akan memanggil temannya yang lain untuk menghisapnya.

6. Lebah tidak pernah melukai kecuali diganggu. Lebah tidak pernah memulai menyerang kecuali bila mereka diusik. Untuk mempertahankan kehormatannya, Mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang.

Ikhlas karena Allah merupakan tujuan hidup dari setiap mukmin dalam segala aktifitas kehidupannya.

إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku karena Allah Tuhan semesta alam”.

Keistimewaan Orang Beriman

Keistimewaan Orang yang Beriman

Suatu keistimewaan buat kita orang beriman bahwa Allah telah memilih kita dari sekian banyak manusia yang ada di alam semesta ini, dengan dianugrahkannya iman kepada kita. Suatu nikmat yang diperoleh bukan karena nasab, status, harta, dan ilmu. Akan tetapi, karunia dari yang Maha Memberi Anugrah. Maka apakah layak orang yang dipilih dan diistimewakan Allah, dientaskan dan diselamatkan dari kekufuran dan diberikan petunjuk, merendahkan nikmat yang agung ini? 

Sesungguhnya orang yang sudah diberi nikmat iman dan islam oleh Allah wajib merasa takut dan khawatir jika nikmat itu hilang. Karena musibah terbesar dan terberat adalah musibah agama, musibah yang menyebabkan seseorang murtad (keluar dari Islam), terjatuh kedalam jurang fitnah, syubhat, syahwat dan maksiat, setelah adanya hidayah dan istiqomah. Untuk itu ia senantiasa termohon kepada Allah dengan hati dan lisannya:”Ya Robb, Ya Robb.”

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ اْلوَهَّابُ (ال عمران:٨

“Ya Tuhan kami, jangan Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia)”.(QS. Ali Imron:8)

Milik Kita yang Abadi

Suatu ketika Ali ra bertanya kepada muridnya: “Kalau ditangan saya ada uang sepuluh dirham, lalu saya sedekahkan 3 dirham, berapa sisa uang saya?” Muridnya menjawab:”tujuh dirham”. Ali ra berkata:”salah, yang benar uang saya tiga dirham karena apa yang saya sedekahkan itulah yang sudah pasti tercatat sebagai amal saleh, sedang selebihnya belum pasti”.
Dialog ini memberi pelajaran yang sangat berharga buat kita. Bahwa setiap apa yang kita miliki di dunia ini berupa titel, pangkat, jabatan, kedudukan, harta benda, uang, rumah, mobil dsb, yang selalu dikejar dan disimpan sebagai kekayaan. Tak jarang energi dan waktu kita terkuras habis untuk hal yang demikian. Sementara usia atau umur kita kian hari kian berkurang dan secara praktis akan mendekatkan kita pada kematian.

Ketika jasad dikubur diliang lahan semua yang kita miliki akan tinggal. Takkan ada yang kita bawa, mobil yang kita punya hanya mengantarkan kita sampai ke pemakaman, keluarga, istri, anak, kaum kerabat perlahan akan meninggalkan kita begitu usai pemakaman. Tinggallah kita sendiri di ruang yang sepi, senyap, pengap, gelap gulita yang ukurannya pas seukuran kita.

Oleh karena itu, agar apa yang kita miliki menjadi milik abadi adalah dengan bersedekah atau membelanjakan harta di jalan Allah, membangun pesantren, sekolah, fasilitas umum, masjid dsb. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:”Siapa yang membangun masjid, maka Allah akan membangun rumah baginya di surga”.

Rasulullah saw juga mengajarkan kita agar seorang yang meninggal hendaknya mewariskan ilmu yang bermanfaat, harta yang dibelanjakan untuk keperluan umat, anak atau generasi yang sholeh. Itulah amalan yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah tiada.

Wallahu’alamubisshowab

Adil

Adil adalah istilah khas yang terdapat banyak sekali dalam al-Qur’an, di antaranya Allah swt berfirman:

إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذى القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغى يعظكم لعلكم تذكرون  

“Sesungguhnya Allah memerintahkan (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan dan memberi kepada keluarga yang dekat dan Allah melarang dari perbuatan keji dan kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran agar kamu dapat mengambil pelajaran (Q.S. An-Nahl:90)

Prof. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, menjelaskan tentang adil dalam ayat ini, yaitu “menimbang yang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar, mengembalikan hak kepada empunya dan jangan berlaku zalim dan aniaya”. Lawan dari adil adalah zalim, yakni memungkiri kebenaran karena hendak mencari keuntungan bagi diri sendiri.

Adil dalam Islam bukan berarti sama rata, sama rasa sebagaimana konsep adil perspektif dunia barat. Jika konsep adil dipahami dalam kerangka pandangan barat maka akan berubah makna adil itu sendiri. Misalnya, sejumlah aktivis yang menuntut kesetaraan gender, dsb. Dalam Islam, laki-laki berhak menjadi imam sholat bagi laki-laki dan perempuan adalah adil. Menurut konsep lain, bisa dikatakan tidak adil. Untuk itu, penggunaan bahasa atau istilah Islam perlu mendapatkan perhatian agar jangan sampai terjadi kekeliruan dalam memahami hakikat dan makna yang sesungguhnya.

Menjemput Kematian

image

Kematian akan hadir kehadapan siapa saja tidak pandang tua, muda, kaya, miskin, sehat atau pun sakit. Tidak pula memandang situasi dan kondisi tertentu yang pasti ia akan hadir tepat pada waktu yang telah ditentukan Allah swt, tanpa bisa dimajukan dan dimundurkan meskipun sesaat.
Saat ajal menjelang berarti hilang sudah kesempatan emas untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal ibadah. Imam Ghozali berkata: “Demi Allah, seandainya jenazah yang kalian tangisi bisa berbicara sekejap, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”.
Kematian adalah gerbang menuju kehidupan yang kekal dan abadi. Pada saat itu, manusia akan menyesali kehidupannya di dunia. Allah swt berfirman:
حتى إذاجاء أحدهم الموت قال رب ارجعون لعلى أعمل صالحا فيما تركت كلا إنها كلمة هو قائلها ومن ورائهم برزخ إلى يوم يبعثون
“Hingga apabila kematian datang padanya. Seorang dari mereka berkata; Ya Tuhanku, kembalikan aku ke dunia agar aku beramal sholeh terhadap apa yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai mereka dibangkitkan”.(QS.Al-Mukminin:99-100)
Untuk itu, hendaklah setiap kita mempersiapkan diri dengan bekal atau persiapan untuk menuju kematian di antaranya:
1. Segera bertaubat, memohon ampun atas segala bentuk dosa yang pernah diperbuat.
2. Menjaga kemurnian tauhid dengan meniadakan sesembahan selain Allah swt.
3. Menjaga sholat lima waktu karena sholat adalah tiang agama. Bila sholat baik maka baiklah semua amal ibadahnya sebaliknya jika sholat rusak maka rusak pula seluruh amal ibadajnya
4. Menunaikan zakat. Harta adalah titipan yang harus digunakan sesuai dengan petunjuk Allah. Harta yang kita nafkahkan di jalan-Nya pada hakikatnya itulah yang akan menjadi milik kita di akhirat.
Wallahua’lamu bi As-showab