Tenggelamnya Kota Sodom

Bismillahirrohmanirrohim

Allah swt mengutus Nabi Luth As kepada penduduk kota Sodom, untuk membimbing dan menyadarkan mereka dari perbuatan maksiat dan kemungkaran yang mereka lakukan. Pencurian, perampokan dan perbuatan maksiat lainnya sudah menjadi kebiasaan dalam keseharian mereka. Lebih parahnya lagi, mereka melakukan perkawinan sejenis. Hampir seluruh kaum laki-laki hanya tertarik kepada sesamanya dan begitu juga kaum wanitanya. Sebagaimana firman Allah swt: “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?”

Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”(QS. Al- A’raf : 80-81)

Seruan Nabi Luth As tersebut sama sekali tidak mereka hiraukan, bahkan mereka sepakat untuk segera mengusir Nabi Luth As dari kota itu. Kisah ini diabadikan Allah di dalam QS. Al-A’roof Ayat 82 yang berbunyi:

“Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.”

Meskipun demikian, Nabi Luth As tetap menyeru dan mengingatkan mereka akan azab Allah swt abila perbuatan mereka tidak segera dihentikan. Peringatan itu tidak juga digubris, justru mereka menantang agar azab Allah tersebut ditimpakan kepada mereka. 

Akhirnya Nabi Luth As memohon kepada Allah swt agar menimpakan azab kepada kaumnya yang tidak lagi mendengarkan perintah Allah. Doa Nabi Luth tersebut dikabulkan Allah swt dengan sebuah gempa vulkanis yang diikuti letusan lava, kota tersebut Allah runtuhkan, lalu dijungkir balikkan masuk ke dalam laut Mati. Sebagaimana firman Allah swt:

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.”(QS. Huud:82).

Saudaraku…mari kita berusaha semampu kita untuk mentaati seruan Allah dan menjauhi larangan-Nya. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung. Aamiiin Ya Robbal’alamiin

Advertisements

Harta dalam Islam

ALlah swt menjadikan harta sebagai alat penghidupan bagi manusia. Pada saat bersamaan harta mulai beredar menjalankan perannya. Dan ketika itu harta mulai menjadi penghidupan, di mana ia menjadi penyalur kehendak, akan di arahkan ke kanan atau ke kiri, ke arah kebajikan atau kejahatan semua terserah kepada pemiliknya. Rasulullah saw bersabda:

إن هذاالمالَ خَضِرٌ حِلْوٌ ونعمَ صاحبُ المسلمِ هو لمن أعْطى منه المسكينَ واليتيمَ وابن السبيلِ وإنّ منيأخُذَه بغير حقِّه كمن يأكلُ ولايشْبَحْ ويكون عليه شهيدا يومَ القيامة

“Sesungguhnya harta itu sesuatu yang manis. Ia adalah kawan yang baik dan sahabat seorang muslim guna meringankan beban sesama orang miskin, anak yatim yang menderita, para musafir yang kehabisan bekal. Dan siapa saja yang mengambil harta itu secara tidak hak, maka ia bagaikan orang yang makan sebanyak-banyaknya tanpa merasa kenyang, serta harta yang diperoleh itu akan menjadi saksi kelak di hari kiamat.”

Harta itu tiang kehidupan dan jalan untuk memperoleh kebajikan dan kenikmatan serta kemajuan dalam hidup. Akan tetapi untuk memperolehnya harus melalui jalan yang mulia, dengan cara yang amanah dan terhormat. Harta itu bukan hanya sekedar digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita yang dapat membahagiakan kehidupan kita. Bahkan kelak harta itu akan menjadi saksi di hari kebangkitan kelak untuk diri kita.

Rasulullah memberikan sifat terhadap harta dengan pemberian sifat halus dan indah yaitu sesuatu yang menyilaukan sekaligus menyenangkan. Hal ini memberikan arti peringatan kandungan dan bahaya yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu, pandangan Rasulullah senantiasa tertuju pada kualitas dari harta itu sendiri, bukan pada sisi jumlahnya (kuantitas).

Rasulullah saw mengetahui dengan jelas muslihat yang terkandung di dalamnya yang dapat membinasakan karena desakan kehidupan. Betapa gaduhnya persaingan dan perlombaan yang dilakukan manusia untuk memperolehnya yang terkadang sampai menghilangkan cara berfikir yang wajar yang pada akhirnya timbul pergulatan, persaingan dan pertarungan yang tidak berkesudahan.

Rasulullah selalu mengingatkan manusia tentang keberadaan Dzat yang Maha Memiliki atas harta mereka. Dan Beliau juga senantiasa menghimbau agar manusia menjaga diri manakala harta yang diperoleh dalam arena pencarian rezeki menjadi medan pertempuran yang menghilangkan norma, adab dan tata krama hidup. Sebagaimana sabda beliau:

ياأيهاالناسُ اتقواالله وأجْمِلُوافى الطَّلَبِ فإنّ انَفساً لنْ تموتُ حتّى يَسْتَوْفِى رِزقُهَا وإنْ أَبْطَأَ عنها فااتقواالله وأجْمِلُوا فى الطالب خذُوا ماحلَّ وَدُعُوا ماحُرِّمَ

“Wahai manusia, bertaqwalah kepada Allah dan terpilihlah jalan yang baik. Sebab seseorang tidak akan mati kecuali ia telah menerima semua jatah rezekinya dengan sempurna; walaupun lambat tibanya. Karenanya, bertaqwalah kepada Allah dan tempuhlah jalan tanganku dalam mencari rezeki. Yakni, ambillah tanggalan dan tinggalkanlah yang haram.”

Segala apa yang menggambarkan hubungan antara manusia dengan harta, hendaknya manusia menempuh jalan yang baik dalam memperolehnya, yakni dengan cara yang ramah. Dan manusia juga dihimbau agar mencari kekayaan dengan mendahulukan yang halal menjauhkan diri dari yang haram.