KEIKHLASAN

Berbicara tentang keikhlasan, sesungguhnya kita membicarakan tentang aktifitas hati. Hati itu ibarat samudra yang luas tak bertepi di dalamnya terdapat berjuta hikmah dan rahasia, berjuta kebaikan dan keprihatinan, berjuta, berjuta keburukan dan kedustaan.

Di antara kebaikan yang ada di dalam hati adalah keimanan, kesabaran dan keikhlasan.

Dalam keseharian kita sering mendengar kata ikhlas. Kata ikhlas tidak semudah mengucapkannya. Seorang ulama besar Sofyan As Tsauri berkata:”Tidak ada suatu perkara yang paling berat bagiku untuk aku obati dari pada meluruskan niatku. Karena niat itu bisa berubah-ubah terhadapku.”

Maka Baginda Rasulullah saw mengajarkan sebuah doa:

اللهمّ يا مقلّب القلوب ثبّت قلبي على دينك

Doa ini diajarkan Nabi saw agar kita senantiasa diberikan keteguhan dan ketetapan hati. Karena hati ini senantiasa berbolak balik. 

Salah satu sifat yang harus kita jauhi untuk menjaga keikhlasan hati adalah sifat ujub. Berbangga diri secara berlebihan yaitu menganggap orang lain tidak lebih baik dari kita.

Sifat ini sering datang secara tiba-tiba tanpa kita sadari muncul dalam diri, sifat ini mampu menghancurkan keikhlasan.

Keikhlasan memiliki kedudukan agung dalam agama kita. Ibnu Katsir mengatakan: “Dua hal yang merupakan rukun diterimanya amalan yaitu:

1. Amalan sesuai dengan syari’at

2. Ikhlas karena Allah

Jika dua hal ini rusak, amalan tidak akan diterima. 

Di antara faedah ikhlas 

Pertama, Amalan diterima dan mendapatkan pahala  dari Allah swt. Sebagaimana firman Allah:

وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang berbuat demikian (yaitu: memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia) karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’:114).

Kedua, Meraih pertolongan dari Allah. Rasulullah saw bersabda:

 إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلاَتِهِمْ وَإِخْلاَصِهِمْ

Dari Mush’ab bin Sa’d, dari bapaknya, bahwa dia menyangka dirinya memiliki keunggulan dibandingkan para sahabat Nabi yang lainnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menolong umat ini adalah dengan sebab doa, sholat, dan keikhlasan orang-orang yang lemah dari umat ini.” (HR. An-Nasai).

Ketiga, Hati yang bersih dari dendam, hasad, dan khianat.

Dalam sebuah hadits dinyatakan, Nabi saw bersabda:

ثَلاَثٌ لاَ يُغَلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلاَصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومِ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

“Hati seorang mukmin tidak akan dimasuki dendam dengan sebab tiga perkara (yaitu) ikhlas dalam amal untuk Allah; memberi nasehat kepada para pemimpin kaum muslimin; menetapi jamaah mereka, karena sesungguhnya doa mereka meliputinya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Wallohua’lamu bi As-Showab

Advertisements

Jangan Merasa Paling Suci

Bismillahirrohmanirrohiim

Setan sebagai musuh yang nyata bagi manusia, tidak pernah kehabisan cara untuk menjerumuskan manusia kedalam keburukan atau perbuatan dosa.

Tipu dayanya membuat sesuatu yang sejatinya salah, seolah terlihat menjadi benar. Di antara tipu daya tersebut menjadikan manusia merasa dirinya suci dan aman dari dosa. Allah swt berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah mengetahui tentang siapa orang yang bertaqwa.”(QS. An-Najm:32)
Dalam QS. An-Nisa’  ayat 49 Allah swt mencela orang-orang yang merasa dirinya suci
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah menyucikan siapa saja yang Dia kehendaki dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.”

Rasulullah saw bersabda:

لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ

“Janganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik.”(HR. Muslim)

Saudaraku, Adakah keraguan pada diri kita, bahwa Nabi saw adalah manusia yang paling sempurna keimanannya? Sekali-kali tidak. Kita amat meyakini kesempurnaan iman beliau. Akan tetapi, kesempurnaan iman beliau tidak membuat beliau merasa dirinya suci dan bosan dalam beribadah. Meski telah dijamin surga, akan tetapi beliau tetap shalat malam hingga bengkak kakinya. Lalu bagaimana dengan kita? Masih layakkah menganggap diri kita suci?

Semoga kita semua senantiasa menjaga dan setiap amal perbuatan kita dan terhindar dari sifat sombong. Aamiiin Ya Robbal’alamiin