Jangan Merasa Paling Benar

Bismillahirrohmanirrohim

Merasa diri paling benar itu boleh saja, asal apa yang dianggap benar itu dapat dipertanggung jawabkan. Bukan hanya sekedar berkata “Saya atau Kamilah yang benar!” Tanpa disertai dalil, hujjah, burhan, syawahid, bukti dan keterangan. Kalau hanya sekedar merasa paling benar, tanpa disertai dalil, hajjah dsb. Lebih baik, berhentilah! Berkoar-koar merasa diri paling benar. 

Allah swt berfirman:

“Kebenaran itu datang dari Robb-mu, maka janganlah kamu menjadi bagian orang-orang yang ragu.”

Untuk itu, hendaklah kita buang jauh-jauh perilaku merasa diri paling suci, paling lurus dan paling benar. Apalagi sampai mengada-mengadakan bukti atau dalil hasil dari rekayasa, menipu, pembodohan, akal-akalan yang di dominasi hawa nafsu untuk kepentingan pribadi, kelompok atau pun golongan. Ingatlah, Allah swt mencela perbuatan tersebut. Sebagaimana firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.”(QS. An-Nisa’:49)

Rasulullah saw bersabda:

لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ

“Janganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik diantara kalian.”(HR.Muslim)

Suatu hari Hasan al Bashri tiba-tiba terbangun di tengah malam lalu ia menangis sejadi-jadinya. Ketika ia ditanya apa yang menyebabkan dirinya menangis, ia menjawab: “Aku menangis karena aku teringat akan satu dosa.”

Hasan al Bashri yang dikenal begitu banyak ilmu dan amalnya, ternyata tidak membuat dirinya merasa paling suci. Nah, kita yang begitu banyak salah dan dosa. Masih, layakkah kita merasa paling suci, paling lurus dan paling benar?

Ibn Hazm berkata:”Barang siapa diberikan musibah berupa sifat berbangga diri, maka pikirkanlah aib dirinya sendiri. Jika semua aibnya tidak terlihat sehingga ia menyangka tidak memiliki aib sama sekali dan merasa suci. Maka ketahuilah, sesungguhnya musibah dirinya tersebut akan menimpa dirinya selamanya. Sesungguhnya ia adalah orang yang paling lemah, paling lengkap kekurangannya, dan paling besar kecacatannya.”

Allah swt tidak menyukai siapa saja dari hamba-Nya yang memiliki sifat sombong dan merasa diri paling benar, paling suci dan paling lurus. Bila terjadi perselisihan dalam suatu persoalan, maka kembalikanlah setiap persoalan itu kepada al-Qur’an dan Sunnah sebagaiman firman Allah swt:

“jika kamu berbeda pendapat tentang suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan rosul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-nissa : 59).

Kebenaran hakiki itu hanya berdasarkan wahyu yang datangnya dari Allah swt disampaikan kepada Rosul-Nya yang mulia, kemudian diajarkan Rosulullah kepada para sahabat, tabi’, tabi’ut tabi’in terus diemban oleh para ulama yang kemudian sampailah kepada kita saat ini.

Wallahu a’lamu bi as-Showab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s