Tiga Landasan Pokok

Bismillahirrohmanirrohim 

المحبّة أساس المعرفةِ والْعفّةُ علامة اليقينِ ورأس الْيقينِ التّقوى والرّضا بنقديرِ اللَّهِ

1. Cinta kepada Allah adalah landasan makrifat.

Orang yang bermakrifat kepada Allah adalah orang yang mengenal betul siapa Allah. Maka yang bersangkutan pasti akan rajin beribadah menyembah Allah. Sebab tidak dikatakan cinta tanpa pengabdian, tidak dikatakan cinta bila tiada pengorbanan, tidak dikatakan pula cinta bila tiada rindu.

2. Iffah (memelihara diri dari meminta-minta) tanda yakin kepada Allah.

Orang yang memiliki sifat iffah, pasti tidak akan mengemis dan berharap bantuan kepada manusia. Mereka adalah orang yang menjaga kehormatannya, sebab itu mereka tidak akan pernah meminta selain hanya kepada Allah semata sebagai Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki. Dalam dirinya tertanam keyakinan bahwa semua makhluk yang hidup telah ditanggung rezeki oleh Allah swt dan rezeki itu akan datang kepadanya dan memang hanya diperuntukkan Allah bagi dirinya.

3. Adapun pokok keyakinan adalah taqwa dan ridho kepada takdir Allah.

Ridho adalah merasa puas dan senang terhadap takdir yang telah ditetapkan Allah bagi dirinya. Dari hal itulah, ia tidak akan pernah mengeluh, menyalahkan atas ujian atau cobaan yang dialaminya. Sebab, ia menyakini bahwa apapun yang terjadi pada dirinya ia yakin itulah ketentuan yang terbaik dari Allah.

Wallohua’lamu bi Ash-Showab

Anak Menurut Perspektif al-Qur’an

Kehadiran anak ditengah kehidupan rumah tangga merupakan dambaan setiap orang tua. Mereka adalah tumpuan harapan yang akan meneruskan cita-cita orang tua. Namun, tak jarang anak yang semula sebagai permata hati, pelipur lara, kebanggaan orang tua menjadi sosok yang menyedihkan, mengkhawatirkan bahkan menakutkan. Maka al-Qur’an sebagai pedoman hidup seorang muslim telah memberikan pengajaran kepada setiap orang tua tentang posisi anak bagi orang tua. Pesan al-Qur’an tersebut agar kita sebagai orang tua betul-betul memberikan perhatian khusus terhadap anak-anaknya.

Kehadiran anak di tengah kegidupan rumah tangga merupakan dambaan dan kebanggaan setiap orang tua. Mereka adalah buah hati, pelipur lara, penerus cita-cita sekaligus investasi serta pelindung ketika mereka sudah dewasa dan orang tua berusia lanjut.

Namun, dalam kenyataan tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak yang sangat diharapkan kelak menjadi penyejuk hati, baik ketika hidup di dunia terlebih lagi ketika sudah tiada tidak seperti yang diharapkan justru malah membuat masalah bagi orang tuanya baik ketika di dunia maupun di akhirat. Na’udzubillah min dzalik.

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi setiap muslim memberikan pedoman buat sorang tua. Bahwa anak disamping sebagai buah hati, perhiasan dan harapan, anak juga merupakan fitnah, cobaan dan ujian. Dalam al-Qur’an anak terbagi kepada 4 tipe

1. Anak sebagai Ujian  (Fitnah), kehadiran anak itu Allah swt mencoba dan menguji manusia dengan tanggung jawab untuk merawat, mengasuh dan mendidiknya sebagai generasi penerus agar mereka kelak menajdi insan yang taqwa kepada Allah swt, sehat jasmani dan rohaninya, cerdas dan terampil serta tanggap terhadap tantangan zamannya. Apakah orang tua mampu menunaikan tanggung jawab itu? Allah swt berfirman:

وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya : ” Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”.(QS. Al-Anfal:28)

2. Anak sebagai Musuh (‘Aduwwun). Firman Allah swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَإِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya : “Hai orang-orang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(QS. At-Taghobun:14)

Bila kita membaca dan memperhatikan ayat ini, rasanya sangat mengerikan buat para orang tua. Bahwa Allah memerintahkan orangtua agar berhati-hati terhadap anak. Karena, bisa jadi anak akan menjadi musuh bagi orang tuanya. Bila sudah menjadi musuh, maka hilanglah sebahagian besar kebahagian dalam rumah tangga. Karena hiasan itu telah menjadi beban, penyebab kesedihan dan  ketakutan serta kesengsaraan. Saat anak sudah tidak lagi mendengarkan nasehat orang tua, saat anak terlibat narkoba, pergaulan bebas, tauran, menjatuhkan martabat keluarga. Saat itulah anak yang dulunya diasuh dan dirawat sebaik mungkin akan menjadi musuh yang menyedihkan dan menyengsarakan. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

3. Anak sebagai Perhiasan dunia (Zinatul Hayah). Allah swt berfirman:

أَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً

Artinya : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”(QS. Al-Kahfi:46)

4. Anak yang menyejukkan pandangan mata (Qurrota A’yun). Sebagaimana firman Allah swt:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Artinya : “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqoon:74)

Tipe anak yang keempat ini adalah orang tua yang sangat beruntung dan berbahagia memiliki anak yang tetap dalam memegang teguh nilai-nilai agama. Merekalah yang disebut ayat tersebut sebagai Qurrotu A’yun. Bisa dikatakan merekalah yang nantinya menjadi jembatan yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat nanti.

Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهُ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِذَامَاتَ ابْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّامِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْوَلَدٍصَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

Artinya:“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau do’a anak yang sholeh yang mendo’akan orang tuanya”(HR. Muslim )

Anak adalah anugrah terindah sekaligus amanah yang dititipkan Allah kepada setiap orang tua. Untuk itu, hendaknya kita sebagai orang tua memperhatikan kebutuhan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak-anak kita baik jasmani maupun rohaninya. Serta tidak kalah pentingnya juga memperhatikan lingkungan atau pergaulan anak-anak kita. Agar anak-anak kita menjadi anak yang memiliki keimanan, akhlak mulia serta berilmu pengetahuan.

Bersiaplah Menuju Akhirat

Kematian adalah gerbang awal menuju kehidupan akhirat, kehidupan yang kekal dan abadi. Setiap kita pasti akan berjumpa dan merasakan yang namanya kematian. Kematian akan menyapa siapa saja, tidak peduli kaya atau miskin, sehat atau sakit, tua atau muda, yang pasti! bila ajal menjemput seorang tidak bisa menunda kedatangannya meskipun sesaat saja.

Rasulullah pernah bersabda kepada Abu Dzar:”Wahai Abu Dzar, 

1. Perbaikilah perahumu, karena lautan itu sangat dalam.

2. Ambillah bekal yang lengkap, karena perjalanan itu sangat jauh.

3. Kurangilah beban karena rintangan itu amat sulit untuk di atasi.

4. Ikhlaslah dalam beramal, karena yang menilai baik dan buruk itu Dzat yang Maha melihat.”

Perbaikilah perahumu maksudnya adalah memperbaiki niat dalam setiap amal perbuatan agar memperoleh pahala dan selamat dari siksa Allah.

Bekal yang cukup adalah memperbanyak amal sholeh. 

Sedangkan beban yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah hal-hal yang bersifat keduniawian.

Rasulullah mengibaratkan akhirat  dengan lautan yang dalam, perjalanan yang jauh dan rintangan yang amat sulit. Sebab, akhirat adalah masa kita ditanya, masa kita bertanggung jawab setiap amal perbuatan kita dihadapan Allah swt dan juga masa di mana kita menerima hasil dari usaha dan upaya kita selama hidup di dunia. Dari hal tersebut, persiapkanlah bekal dengan memperbanyak ibadah dan amal sholeh berupa kebaikan kapan dan dimanapun kita berada. Seorang penyair berkata:

Manusia wajib bertaubat, namun meninggalkan dosa itu jauh lebih wajib lagi.

Sabar dalam menghadapi musibah itu sulit, namun hilangnya pahala sabar itu jauh lebih sulit lagi.

Perubahan suatu zaman itu memang aneh, namun kelalaian manusia lebih aneh lagi.

Peristiwa yang akan datang terasa sangat dekat, namun kematian itu lebih dekat lagi.

Maka, manusia yang paling beruntung adalah mereka yang mengetahui bahwa perjalanan yang akan ditempuh itu sangatlah jauh dan akan banyak halangan dan rintangan, maka ia membekali dirinya dengan perbekalan yang cukup.