Pentingnya Ilmu

Membekali diri dengan ilmu sehubungan dengan apa yang kita amalkan merupakan perkara penting. Rasulullah bersabda:

“Ilmu itu imamnya amal, sedang amal adalah makmumnya”

Maka, belajar akan  ilmu pengetahuan mempunyai peranan sangat penting dalam kehidupan. Dengan ilmu pengetahuan hidupnya akan menjadi mudah dan terarah. Begitu pula halnya dengan ilmu yang berkaitan dengan ibadah sebab tanpa ilmu satu amalan tidak akan sempurna bahkan amalan tersebut ditolak. Contoh: Ibadah shalat, sholat merupakan ibadah yang wajib dilakukan oleh seorang muslim. Maka, wajib hukumnya seorang muslim mengetahui ilmunya berupa syarat dan rukunnya agar sholat yang dikerjakannya sempurna.

Amal tanpa ilmu akan banyak salahnya dari pada benarnya sehingga menjadikan amalnya semakin rusak dan semakin jauh dari Allah.

Ilmu pengetahuan merupakan karunia dari Allah swt kepada manusia, Allah juga menyatakan bahwa hanya dengan ilmu, manusia mampu memahami perumpamaan yang diberikan-Nya, dalam firman-Nya:

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”(QS.Al-Ankabut:43)

Dalam mencari ilmu haruslah bertahap sedikit demi sedikit serta memulainya dengan hal-hal yang pokok, kaidah-kaidah dan ringkasan-ringkasan hingga betul-betul mengerti dan paham. 

Mengetahui batasan-batasan, hal-hal pokok akan menjadikan seseorang mampu menelaah dan mengambil keputusan setiap masalah yang mereka hadapi.

Cintailah Ilmu

Bismillahirrohmanirrohiim 

Ada dua kehausan yang tidak akan kunjung puas di dunia ini:

1. Menuntut ilmu

2. Mengejar dunia

Akan tetapi keduanya tidak sama. Ada pun orang yang mencari ilmu maka ia akan selalu mendapat ridho Allah, sedang yang mengejar kekayaan dunia akan bertambah merajalela dalam kesesatan.

Abu Laits As Samarqandi berkata, Abul Qasim Abdul Rahman bin Muhammad meriwayatkan dari Hasan al Basri berkata, saya tidak mengetahui amal yang lebih afdhal dari jihad selain mencari ilmu, maka: siapa yang keluar dari rumahnya untuk mencari dan memperlajari satu bab dari ilmu agama, maka ia dinaungi oleh malaikat dengan sayapnya, di doakan oleh burung-burung di udara dan binatang-binatang buas didaratan dan ikan-ikan di laut dan diberikan pahala oleh Allah pahala 72 orang siddiq.

Abu Dardaa’ berkata: saya mendengar Rasulullah saw bersabda, siapa berjalan di jalan untuk mencari ilmu, maka :

1. Allah akan memudahkan baginya jalan dari jalan-jalan syurga.

2. Seorang alim itu dimintakan ampun oleh semua penduduk langit dan bumi dan ikan-ikan di dalam air dan kelebihan seorang alim terhadap ahli ibadah sebagaimana kelebihan bulan purnama terhadap bintang-bintang.

3. Dan ulama itu sebagai pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan harta perak atau emas tetapi mereka mewariskan ilmu, maka siap yang mendapatkannya berarti ia telah mendapatkan bagian yang sebanyak-banyaknya.

Semoga kita menjadi orang-orang yang cinta akan ilmu. Aamiin

Cintailah Ilmu

Bismillahirrohmanirrohiim 

Ada dua kehausan yang tidak akan kunjung puas di dunia ini:

1. Menuntut ilmu

2. Mengejar dunia

Akan tetapi keduanya tidak sama. Ada pun orang yang mencari ilmu maka ia akan selalu mendapat ridho Allah, sedang yang mengejar kekayaan dunia akan bertambah merajalela dalam kesesatan.

Abu Laits As Samarqandi berkata, Abul Qasim Abdul Rahman bin Muhammad meriwayatkan dari Hasan al Basri berkata, saya tidak mengetahui amal yang lebih afdhal dari jihad selain mencari ilmu, maka: siapa yang keluar dari rumahnya untuk mencari dan memperlajari satu bab dari ilmu agama, maka ia dinaungi oleh malaikat dengan sayapnya, di doakan oleh burung-burung di udara dan binatang-binatang buas didaratan dan ikan-ikan di laut dan diberikan pahala oleh Allah pahala 72 orang siddiq.

Abu Dardaa’ berkata: saya mendengar Rasulullah saw bersabda, siapa berjalan di jalan untuk mencari ilmu, maka :

1. Allah akan memudahkan baginya jalan dari jalan-jalan syurga.

2. Seorang alim itu dimintakan ampun oleh semua penduduk langit dan bumi dan ikan-ikan di dalam air dan kelebihan seorang alim terhadap ahli ibadah sebagaimana kelebihan bulan purnama terhadap bintang-bintang.

3. Dan ulama itu sebagai pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan harta perak atau emas tetapi mereka mewariskan ilmu, maka siap yang mendapatkannya berarti ia telah mendapatkan bagian yang sebanyak-banyaknya.

Semoga kita menjadi orang-orang yang cinta akan ilmu. Aamiin

​Mengikuti Nafsu dan Melakukan Dosa

Syahwat dan dosa merupakan penyebab kerusakan hati. Allah swt berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jatsiyah:23).
Semua dosa, baik yang besar maupun yang kecil itu mengeruhkan dan merusak hati. Maka, setiap orang yang beriman wajib meninggalkan dosa lahir maupun yang batin, apalagi dosa-dosa hati yang sangat berbahaya. Di antara dosa hati yang tersembunyi adalah riya’ yang dapat merusak amal, ujub yang bisa menjadikan amal bagai abu yang bertebaran, iri, dengki, yang dapat menghapus pahala pahala kebajikan dan memperbanyak dosa.

Dosa adalah penyebab keras hati sehingga menghalangi nasehat yang diberikan sehingga tidak bisa menimbulkan kesan apapun. Bila kematian disebut, hati tidak lagi merasa ngeri dan tidak pula gentar dan tidak pula gemetar bila mendengar janji-janji balasan dari Allah. Rasulullah saw bersabda: “Yang paling jauh kepada Allah adalah hati yang keras”. Beliau juga bersabda: “Empat perkara menjadi tanda kejahatan yaitu : hati yang keras, mata yang beku, senantiasa berandai-andai dan panjang angan-angan”.

Dalam hadist lain Beliau bersabda: “ Ingatlah! Bahwa Allah tidak akan menerima doa dari hati yang lalai” 

Hati yang lalai adalah hati yang tidak tahu diri dan tidak sadar manakala diingatkan dengan petunjuk berupa perintah dan larangan Allah. Ia tidak akan pernah mengindahkan nasehat-nasehat, karena hatinya telah dibelenggu oleh sifat lalai dan lupa kepada Allah.

Wallohu’alamu bi as Sowaab