Bahaya Membiarkan Maksiat

Membiarkan perbuatan maksiat yang terjadi di depan mata tanpa adanya kepedulian sama artinya kita ikut berperan dalam kemaksiatan tersebut

Advertisements

Allah swt berfirman

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah diri kalian dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal [8]: 25)

Imam Ibn Katsir (w. 774 H) menyatakan bahwa ayat ini merupakan peringatan dari Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman tentang fitnah, yaitu ujian dan bencana, yang tidak hanya dikhususkan bagi ahli maksiat dan pelaku dosa saja, namun berlaku umum, terhadap orang yang melakukan kemaksiatan ataupun tidak.

Hal ini terjadi karena orang-orang yang tidak melakukan perbuatan dosa tadi tidak berupaya mencegah dan menghentikan kemaksiatan para ahli maksiat.

At-Thabari (w. 310 H) menyampaikan sebuah riwayat dari Ibn ‘Abbas tentang ayat ini, Ibn ‘Abbas berkata: “Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk tidak mendiamkan kemungkaran yang tampak di hadapan mereka, jika demikian (tetap mendiamkan) maka Allah akan menimpakan azab yang berlaku umum.”

Dari penjelasan di atas, cukup jelas buat kita bahwa ayat ini merupakan peringatan kepada kita, agar kita tidak membiarkan kemaksiatan dan kemungkaran merajalela di sekitar kita.

Jika ada yang menyatakan bahwa Allah ta’ala berfirman: wa laa taziru waaziratun wizra ukhraa (dan seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain) atau kullu nafsin bimaa kasabat rahiinah (tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya). 

Maka, menurut al-Qurthubi (w. 671 H), jawabannya adalah bahwa seseorang yang melihat kemungkaran merajalela, ia wajib mengubahnya, dan yang berdiam diri terhadap kemungkaran tersebut juga terkategori orang yang bermaksiat. Ia berdosa karena ridha terhadap kemaksiatan yang ada disekitarnya.

Kewajiban mengubah kemungkaran ini juga telah dinyatakan oleh Rasulullah saw dalam salah satu hadits shahih:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah ia dengan tangan, jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu, maka dengan hati (dengan menunjukkan ketidak ridhaan terhadap kemungkaran tersebut), dan itulah selemah-lemah iman.”

Mengenai dampak buruk dari mendiamkan kemungkaran antara lain:

1. Mendiamkan kemungkaran akan dinilai sama seperti orang yang melakukan maksiat walau tidak melakukannya secara langsung. Karena sebagaimana wajib menjauhi maksiat, maka wajib pula mengingkari orang yang melakukan maksiat.

2. Mendiamkan kemungkaran sama halnya menganggap remeh kemungkaran.

3. Mendiamkan maksiat, maka samalah artinya membiarkan perbuatan tersebut akan semakin meluas.

4. Jika orang berilmu dan paham agama mendiamkan maksiat dikhawatirkan nantinya maksiat itu dianggap bukan maksiat, parahnya nanti bisa dianggap sebagai perbuatan baik.

5. Perlu diingat bahwa perbuatan buruk itu menular

Dahsyatnya Kekuatan Do’a

Tatkala tiada seorang pun yang peduli denganmu dan tiada yang dapat membantumu maka yakinkanlah di dalam hatimu bahwa masih ada yang akan mendengarkan rintihan hatimu yakni Dzat yang Maha Melihat dan Maha Mendengar setiap untaian doa-doamu, itulah Dia Allah swt pemilik kehidupan dan pemilik segala sesuatunya. Mohonlah kepada-Nya karena Dia merindukan lantunan, rintihan serta harapan dari setiap permohonanmu.

Manusia adalah makhluk yang memiliki segudang kelemahan dan keterbatasan seperti kesulitan, kesusahan, dan lain sebagainya seperti penyakit yang tak kunjung sembuh, jodoh yang tak kunjung datang, hutang yang tak terlintas, jabatan yang tak kunjung naik, anak keturunan yang tak kunjung lahir serta kesempitan hidup lainnya dsb.

Pada saat peristiwa tersebut terjadi, tak jarang manusia dibuat bingung, linglung, bahkan kehilangan kesabaran dan kontrol diri. Manusia mengalami shok, mentalnya jatuh, jiwanya rentan terhadap berbagai penyakit mental dan spiritual. Itulah diantara kekurangan dan kelemahan manusia. Meskipun demikian, Allah dan Rosul-Nya telah mengajarkan kepada kita bahwa jalan untuk mendapat kekuatan maha dahsyat tersebut adalah do’a. 

Doa adalah jalan pintas tercepat, mudah dan murah bagi manusia untuk menggapai keinginan dan menjauhkan dirinya dari marabahaya. 

Doa adalah senjata bagi orang yang lemah, miskin dan terdzolimi. Ia membuat orang yang lemah menjadi kuat, yang miskin menjadi kaya, yang bodoh menjadi pandai, yang sulit menjadi mudah, yang sempit menjadi lapang, yang terancam menjadi selamat, yang bercita-cita dikabulkan. 

Doa merupakan senjata yang paling ampuh dalam menjalani kehidupan di dunia ini sebagaimana sabda Rasulullah saw:

الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ

“Doa adalah senjata orang beriman”

Allah swt kerapkali mengisahkan arti pentingnya doa bagi keselamatan manusia dari segala bencana dan marabahaya sebagai contoh dengan menggambarkan penumpang kapal yang tengah diamuk badai angin yang amat kencang serta gelombang ombak laut yang ganas. Pada saat itu, mereka memutuskan harapan kepada sesama penumpang kapal, kepada manusia yang berada di daratan. Pada saat itu, hanya ada satu-satunya harapan yang tertuju yakni kepada Allah. Maka doa yang tulus disertai kerendahan hati, rasa kefakirannya pun melantun lembut dari bibir dan lisan mereka. Allah yang Maha Pengasih mendengar rintihan dan tangisan mereka, langsung mengabulkan doa mereka. Demikianlah kedahsyatan doa dalam menghindarkan manusia dari malapetaka, malapetaka yang akan menimpa mereka. 

Peranan doa begitu vital bagi kehidupan manusia, terlebih pada saat dirundung berbagai masalah dan kesengsaraan. Karena doa menandakan ketundukan hati, penyerahan diri, dan keyakinan penuh akan kuasa Allah swt.  Dengan demikian, doa merupakan inti ibadah, yaitu ketundukan, kepasrahan, serta kerendahan diri seorang hamba di hadapan Kholiq-Nya

Wallohua’lamu bi As-Showab