Keistimewaan Orang Beriman

Keistimewaan Orang yang Beriman

Suatu keistimewaan buat kita orang beriman bahwa Allah telah memilih kita dari sekian banyak manusia yang ada di alam semesta ini, dengan dianugrahkannya iman kepada kita. Suatu nikmat yang diperoleh bukan karena nasab, status, harta, dan ilmu. Akan tetapi, karunia dari yang Maha Memberi Anugrah. Maka apakah layak orang yang dipilih dan diistimewakan Allah, dientaskan dan diselamatkan dari kekufuran dan diberikan petunjuk, merendahkan nikmat yang agung ini? 

Sesungguhnya orang yang sudah diberi nikmat iman dan islam oleh Allah wajib merasa takut dan khawatir jika nikmat itu hilang. Karena musibah terbesar dan terberat adalah musibah agama, musibah yang menyebabkan seseorang murtad (keluar dari Islam), terjatuh kedalam jurang fitnah, syubhat, syahwat dan maksiat, setelah adanya hidayah dan istiqomah. Untuk itu ia senantiasa termohon kepada Allah dengan hati dan lisannya:”Ya Robb, Ya Robb.”

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ اْلوَهَّابُ (ال عمران:٨

“Ya Tuhan kami, jangan Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia)”.(QS. Ali Imron:8)

Advertisements

Milik Kita yang Abadi

Suatu ketika Ali ra bertanya kepada muridnya: “Kalau ditangan saya ada uang sepuluh dirham, lalu saya sedekahkan 3 dirham, berapa sisa uang saya?” Muridnya menjawab:”tujuh dirham”. Ali ra berkata:”salah, yang benar uang saya tiga dirham karena apa yang saya sedekahkan itulah yang sudah pasti tercatat sebagai amal saleh, sedang selebihnya belum pasti”.
Dialog ini memberi pelajaran yang sangat berharga buat kita. Bahwa setiap apa yang kita miliki di dunia ini berupa titel, pangkat, jabatan, kedudukan, harta benda, uang, rumah, mobil dsb, yang selalu dikejar dan disimpan sebagai kekayaan. Tak jarang energi dan waktu kita terkuras habis untuk hal yang demikian. Sementara usia atau umur kita kian hari kian berkurang dan secara praktis akan mendekatkan kita pada kematian.

Ketika jasad dikubur diliang lahan semua yang kita miliki akan tinggal. Takkan ada yang kita bawa, mobil yang kita punya hanya mengantarkan kita sampai ke pemakaman, keluarga, istri, anak, kaum kerabat perlahan akan meninggalkan kita begitu usai pemakaman. Tinggallah kita sendiri di ruang yang sepi, senyap, pengap, gelap gulita yang ukurannya pas seukuran kita.

Oleh karena itu, agar apa yang kita miliki menjadi milik abadi adalah dengan bersedekah atau membelanjakan harta di jalan Allah, membangun pesantren, sekolah, fasilitas umum, masjid dsb. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:”Siapa yang membangun masjid, maka Allah akan membangun rumah baginya di surga”.

Rasulullah saw juga mengajarkan kita agar seorang yang meninggal hendaknya mewariskan ilmu yang bermanfaat, harta yang dibelanjakan untuk keperluan umat, anak atau generasi yang sholeh. Itulah amalan yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah tiada.

Wallahu’alamubisshowab