Adil

Adil adalah istilah khas yang terdapat banyak sekali dalam al-Qur’an, di antaranya Allah swt berfirman:

إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذى القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغى يعظكم لعلكم تذكرون  

“Sesungguhnya Allah memerintahkan (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan dan memberi kepada keluarga yang dekat dan Allah melarang dari perbuatan keji dan kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran agar kamu dapat mengambil pelajaran (Q.S. An-Nahl:90)

Prof. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, menjelaskan tentang adil dalam ayat ini, yaitu “menimbang yang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar, mengembalikan hak kepada empunya dan jangan berlaku zalim dan aniaya”. Lawan dari adil adalah zalim, yakni memungkiri kebenaran karena hendak mencari keuntungan bagi diri sendiri.

Adil dalam Islam bukan berarti sama rata, sama rasa sebagaimana konsep adil perspektif dunia barat. Jika konsep adil dipahami dalam kerangka pandangan barat maka akan berubah makna adil itu sendiri. Misalnya, sejumlah aktivis yang menuntut kesetaraan gender, dsb. Dalam Islam, laki-laki berhak menjadi imam sholat bagi laki-laki dan perempuan adalah adil. Menurut konsep lain, bisa dikatakan tidak adil. Untuk itu, penggunaan bahasa atau istilah Islam perlu mendapatkan perhatian agar jangan sampai terjadi kekeliruan dalam memahami hakikat dan makna yang sesungguhnya.

Menjemput Kematian

image

Kematian akan hadir kehadapan siapa saja tidak pandang tua, muda, kaya, miskin, sehat atau pun sakit. Tidak pula memandang situasi dan kondisi tertentu yang pasti ia akan hadir tepat pada waktu yang telah ditentukan Allah swt, tanpa bisa dimajukan dan dimundurkan meskipun sesaat.
Saat ajal menjelang berarti hilang sudah kesempatan emas untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal ibadah. Imam Ghozali berkata: “Demi Allah, seandainya jenazah yang kalian tangisi bisa berbicara sekejap, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”.
Kematian adalah gerbang menuju kehidupan yang kekal dan abadi. Pada saat itu, manusia akan menyesali kehidupannya di dunia. Allah swt berfirman:
حتى إذاجاء أحدهم الموت قال رب ارجعون لعلى أعمل صالحا فيما تركت كلا إنها كلمة هو قائلها ومن ورائهم برزخ إلى يوم يبعثون
“Hingga apabila kematian datang padanya. Seorang dari mereka berkata; Ya Tuhanku, kembalikan aku ke dunia agar aku beramal sholeh terhadap apa yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai mereka dibangkitkan”.(QS.Al-Mukminin:99-100)
Untuk itu, hendaklah setiap kita mempersiapkan diri dengan bekal atau persiapan untuk menuju kematian di antaranya:
1. Segera bertaubat, memohon ampun atas segala bentuk dosa yang pernah diperbuat.
2. Menjaga kemurnian tauhid dengan meniadakan sesembahan selain Allah swt.
3. Menjaga sholat lima waktu karena sholat adalah tiang agama. Bila sholat baik maka baiklah semua amal ibadahnya sebaliknya jika sholat rusak maka rusak pula seluruh amal ibadajnya
4. Menunaikan zakat. Harta adalah titipan yang harus digunakan sesuai dengan petunjuk Allah. Harta yang kita nafkahkan di jalan-Nya pada hakikatnya itulah yang akan menjadi milik kita di akhirat.
Wallahua’lamu bi As-showab