Al-Qur’an sebagai Harapan dan Tantangan

image
Membumikan Al Qur'an sebagai Harapan dan Tantabga

Al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai pedoman bagi ummat manusia dalam menata kehidupannya baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Al-Qur’an tidak hanya mengatur masalah ibadah ritual seperti ibadah sholat, puasa dan lain sebagainya. Akan tetapi, al-Qur’an menyangkut seluruh aspek kehidupan berkaitan dengan masalah sosial, ekonomi, politik  dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ringkasnya al-Qur’an merupakan konsep yang sempurna dan akan senantiasa relevan dengan situasi dan kondisi setiap zaman. Sebagaimana Allah swt berfirman:
اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتى ورضيت لكم الإسلام دينا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Kecukupan nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi islam itu jadi agama bagimu”.(al-Maidah:3)
Rasulullah saw bersabda:
تركت فيكم أمرين ماإن تمسكتم بهما لن تضلوا أبدا كتاب الله وسنتى
“Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang jika kamu berpegang teguh padanya keduanya kamu tidak tersesat selama-lamanya kitabullah dan sunnahku”
Maka, tatkala manusia mencari pedoman lain selain dari pada al-Qur’an dan Sunnah yang terjadi adalah kerancuan, kemerosotan yang berujung pada kehancuran.
Islam dalam sejarah pernah menjadi pusat peradaban dunia lebih kurang selama tujuh abad. Namun, dengan kemajuan yang diraih ummat Islam pada saat itu menjadikan mereka larut dalam kemegahan dan kesenangan. Menyebabkan mereka lalai dari musuh Islam yang senantiasa berjaga menunggu waktu yang tepat untuk meruntuhkan kekuasaan Islam. Ummat Islam secara perlahan mengalami degradasi dan akhirnya ditandai dengan runtuhnya khilafah ustmany.
Pada hakikatnya ummat Islam tidak akan pernah mengalami kemunduran, bila ummat Islam berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah. Sebagaimana yang pernah di ungkapkan oleh Napoleon Bonaparte:
“Apa yang saya pahami dari Kitab ini adalah, saya merasa apabila kaum muslimin menjalankan ajaran kitab ini, maka mereka tidak akan pernah terhina. Selama al-Qur’an berkuasa dalam kehidupan kaum muslimin maka mereka tidak akan pernah tunduk kepada siapapun termasuk kepada kita orang-orang barat. Kita hanya akan dapat menundukkan mereka kaum muslimin dengan cara menjauhkan mereka dari al-Qur’an”.
Untuk mewujudkan ummat Islam sebagai ummat yang terbaik tentu bukan dengan cara duduk bermalas-malasan dan berpangku tangan. Apalagi negeri yang sangat kita cintai ini sedang mengalami krisis multi dimensi mulai dari krisis ekonomi, krisis kepercayaan dan lain sebagainya lebih parahnya lagi adalah krisis akhlak. Apa yang terjadi pada orang tua dan guru-guru kita saat ini. Anak yang menuntut orang tua bahkan tega membunuhnya, begitu juga sebaliknya orang tua yang membuang anaknya, siswa yang memperkarakan gurunya bahkan membunuhnya dan masih banyak kasus lagi yang terjadi.
Merosotnya moral bangsa kita ini, tidak lain karena semakin jauhnya kita dari al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup yang kita yakini.
Kita mulai dari diri sendiri dengan hiasi hidup dan kehidupan kita, anak-anak kita dengan al-Qur’an dan Sunnah Rosul-Nya untuk meraih ridho Ilahi.
Wallahu’alamubisshowab

Advertisements

Bahaya Memperturutkan Hawa Nafsu

image

Sebelum menciptakan manusia, Allah terlebih dahulu menciptakan akal dan nafsu. Dalam hadits Qudsi Allah bertanya kepada akal:من أنت ومن أنا؟ (Siapa kamu dan siapa saya?). Akal menjawab: أنا عبد وأنت رب (saya hambamu dan Engkau Tuhanku). Kemudian Allah bertanya kepada nafsu dengan pertanyaan yang sama. من أنا ومن أنت؟ (siapa saya dan siapa kamu?) nafsu menjawab: أنا أناوأنت أنت (saya ya saya, kamu ya kamu) lalu Allah memasukkannya ke dalam api neraka dan membakarnya selama 1000 tahun. Kemudian Allah mengeluarkannya dan kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama. Jawabannya tetap sama seperti semula (saya ya saya, kamu ya kamu). Lalu Allah swt memasukkannya ke dalam neraka yang sangat dingin selama 1000 tahun, kemudian Allah mengeluarkannya dan bertanya kembali dengan pertanyaan yang serupa. Ternyata, jawaban nafsu tetap dan tidak membuatnya berubah sama seperti jawaban semula. Lantas, Allah memasukkannya kembali ke dalam neraka dengan tidak diberi makan selama 1000 tahun lagi, lalu Allah mengeluarkannya dan Allah swt bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama, barulah nafsu menjawab: “Ana Abdun wa anta Robbun”. (Saya hamba-Mu dan Engkau adalah Tuhanku). Demikianlah keadaan nafsu.
Meskipun demikian, nafsu merupakan karunia Allah buat manusia. dengan adanya nafsu manusia memiliki keinginan. Namun, bila nafsu ini tidak dikendalikan maka akan mendatangkan  keburukan serta dapat menjerumuskan manusia kepada berbagai sikap-sikap tercela berupa munculnya sikap tidak malu berbuat keji, suka merusak, suka mengharapkan pemberian orang lain, rakus, penjilat, busuk hati, iri, dengki, membuat makar, mencari-cari dalil yang bukan-bukan, korupsi, mengambil hak orang lain yang bukan menjadi  haknya.
Ibnu Rajab berkata, seluruh maksiat timbul dari sikap mendahulukan nafsu di atas kecintaan terhadap Allah swt dan Rosul-Nya.  Allah swt berfirman:
أفرأيت من اتخذ إلهه هواه وأضله على علم وختم على سمعه وقلبه وجعل على بصره غشاوة فمن يهديه من بعد الله أفلا تذكرون
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah mengunci mati mata, pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang memberi petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?(QS. Al-Jatsiyah:23)
Seringkali nafsu yang tidak terkendali ini mengalahkan potensi kebaikan yang dimiliki manusia itu sendiri berupa hati dan akal. Hati dan akal adalah cahaya penerang tatkala manusia berada dalam kegelapan, menjadi penyeimbang dikala manusia dalam kebimbangan dan keraguan. Namun, akal dan hati akan tertutup bila nafsu ini di biarkan dan akan melahirkan berbagai prilaku yang negatif, sebagaimana sabda Rasulullah saw;
إن فى الجسد مضغة اذا صلحت صالح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهى القلب
“Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal daging yang apabila baik maka baik pula seluruh perbuatannya dan jika ia rusak maka rusak pulalah seluruh perbuatannya, itulah qolbu”
والله أعلم بالصواب

Kiat Puasa Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang paling mulia penuh dengan keberkahan, rahmat dan ampunan dari Allah swt. Hari-harinya adalah paling utama, malam-malanya adalah malam paling utama serta waktu-waktunya adalah yang paling utama. Pada bulan ini, kita menjadi tamu-tamu Allah swt untuk itu kita dimuliakan oleh-Nya. Setiap hembusan dan tarikan nafasnya orang yang berpuasa adalah tasbih, tidurnya adalah ibadah, amal ibadahnya diterima dan doanya diijabahkan oleh Allah swt.
Sabda Rosulullah saw:
قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌمُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ فِيْهِ يُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ اْلجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ اْلجَحِيْمِ وَتَغُلُّ فِيْهِ الشَّيَطِيْنَ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ (رواه أحمد)

“Telah datang kepadamu bulan ramadhan, bulan yang mulia yang mana Allah wajibkan bagimu untuk mempuasakannya, bulan tersebut dibukakannya pintu-pintu surga, dikuncinnya pintu-pintu neraka dan dibelunggunya syaithan, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Barang siapa yang tidak diberikan kebaikan selama bulan tersebut berarti telah tidak diberikan kepadanya segala bentuk kebaikan”. (HR. Ahmad)

Dengan kutamaan bulan ini maka setiap muslim dipenjuru dunia senantiasa menantikan kehadirannya dan tentunya kita sebagai muslim yang baik, tidak akan melewatkan begitu saja momen ramadhan ini. Agar ramadhan tahun ini dapat kita manfaatkan dengan baik tentunya ada beberapa kiat yang harus kita persiapkan. Karena, persiapan merupakan tahap awal yang penting dalam pencapaian visi, misi dan tujuan. di antaranya sebagai berikut:
1. Niat
Rasulullah saw bersabda:
إِنَّمَااْلأَعْمَالُ بِالنِّيَات
“Sesungguhnya amal dengan niat”
Puasa bukan hanya sekedar ritual belaka, ajang menggugurkan kewajiban tanpa menghayati dan meresapi esensi ibadah tersebut. Untuk itu, niat sangatlah penting dalam melakukan setiap amal perbutan kita. Karena hasil dari suatu amal perbuatan tergantung dengan niat kita. Niat tersebut tentunya harus disertai pula dengan kesungguhan menjadikan ramadhan tahun ini sebagai musim untuk menghasilkan berbagai kebajikan. Anggaplah ramadhan tahun ini sebagai ramadhan terakhir buat kita, sehingga tertanam tekad yang disertai dengan keikhlasan untuk konsisten dalam beribadah dan beramal sholeh.
2. Taubat
Bertaubat kepada Allah swt semestinya kita lakukan setiap saat bukan pada waktu-waktu tertentu saja. Akan tetapi, bertaubat sebelum masuk ramadhan adalah hal yang utama agar kita bertemu dengannya dalam keadaan bersih dari noda dan dosa yang mengotori jiwa kita. Allah swt berfirman:
تُبُوْا إِلَى اللهِ جَمِيْعًا أَيُّهَااْلمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“dan bertaubatlah kamu sekalian wahai orang yang beriman supaya kamu beruntung (QS. An-Nur:31)
Jiwa yang bersih serta hati yang ikhlas adalah modal yang sangat berharga untuk memasuki bulan ramadhan.
3. Mempersiapkan mental dan spiritual
Ibada puasa membutuhkan persiapan mental dengan menanamkan tekad yang bulan untuk menjadikan ramadhan sebagai sarana untuk memperbaiki diri. Persiapan spiritualnya dengan membekali diri dengan ketentuan, aturan dan hukum puasa, adat dan etika serta amalan yang biasa dilakukan Rasulullah selama bulan puasa.
4. Mempersiapkan ilmu
Pemahaman yang memadai seputar ramadhan seperti amalan wajib, amalan sunnah, hal-hal yang membatalkan dan mengurangi nilai puasa, zakat, infaq dan shodaqoh sangatlah penting dalam ibadah puasa. Sehingga dalam melaksanakan amalan ibadahnya tidak sia-sia. Sabda Rasulullah saw:
اْلعَمَلُ بِلَا عِلْمٍ مَرْدُوْدٌ
“Amalan yang tidak berdasarkan ilmu ditolak”

Wallohua’lamubisshowab