Pentingnya Dakwah

Dakwah berarti menyeru, mengajak orang lain untuk berbuat kebajikan. Kegiatan dakwah ini bukan hanya kewajiban para kiyai, ulama maupun ustadz akan tetapi dakwah adalah kewajiban setiap orang yang beriman, untuk mengajak umat manusia untuk beriman kepada Allah swt dengan tiada menyekutukannya dengan apapun juga, untuk senantiasa beramal sholeh, dan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Karena, Islam adalah agama nasehat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Agama adalah nasehat. Sahabat bertanya:”Kepada siapa ya Rasul? Rosul menjawab: “Bagi Allah, Kitab-kitab-Nya, Rosul-Rosul-Nya, Bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin beserta rakyatnya.”

Pada dasarnya manusia memiliki sifat hanif yaitu cendrung kepada kebaikan. Oleh karenanya manusia membuat aturan, undang-undang dengan tujuan kebaikan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa fitrahnya manusia juga memiliki hawa nafsu yang tak jarang manusia berlebihan dalam menuruti kehendak nafsu, sehinga manusia terjerumus lembah kenistaan.

Oleh karena itu, peran seorang yang beriman adalah berdakwah, menyeru dan memberikan nasehat kepada saudaranya agar tidak terjerumus dalam perbuatan dosa. Dakwah seperti ini merupakan kewajiban karena yang dipertanyakan adalah keimanan seorang muslim. sebagaimana sabda Nabi saw:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبُّ لِأَخِيْهِ مَايُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang diantara kamu sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Advertisements

Valentine?

Islam adalah agama yang bukan hanya mengatur masalah tata cara beribadah saja. Akan tetapi, Islam adalah agama sempurna yang mengatur seluruh aktifitas umatnya mulai dari hal terkecil sampai kepada hal-hal yang penting dan besar. Sehingga seorang muslim tidak dibenarkan melakukan suatu amalan atau perbuatan yang tidak memiliki landasan yang kuat berupa Al-Qur’an dan Sunnah Rosul-Nya. Islam tidak membenarkan umatnya melakukan sesuatu dengan tidak berdasar pada pengetahuan akan amalan tsb. 
Saat ini kita menurut kalender masehi kita berada di bulan februari dimana bulan ini disebut dengan bulan kasih sayang (Valentine day’s). Sehingga dapat kita saksikan sebagian dari kita mempersiapkan diri akan datangnya bulan ini. Ketika ditanya mereka berdalih bahwa dimana-mana orang merayakannya. 

Dalam Islam, amalan itu bukan karena menurut kebanyakan orang yang mengarjakannya atau mengamalkannya.

Al-Qur’an dalam Surah Al-An’am ayat 116-117 telah mengajarkan kita, sebagaiman firman Allah:”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesal dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Syaikh Abdurrohman as-Sa’di ra berkata: “Ayat ini menjelaskan bahwa kebenaran itu bukan karena banyak pendukungnya, dan kebathilan itu bukan karena orang yang mengerjakannya sedikit. Kenyataannya yang mengikuti kebenaran hanya sedikit, sedangkan yang mengikuti kemungkaran banyak sekali. Kewajiban bagi umat Islam adalah mengetahui yang benar dan bathil, lihatlah jalan yang ditempuh.” [Tafsir al-Karimur Rohman: 1/270]
Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai asal muasal hari kasih sayang ini. Perayaan ini telah ada semenjak abad ke-17. Perayaan ini adalah salah satu dari hari raya bangsa Romawi yang menganut paganisme (penyembah berhala). Sebagai sebuah pengungkapan dan pembuktian cinta kepada sesembahan mereka.

Ahli sejarah lain yang mengatakan bahwa budaya ini sudah ada pada abad ke-4 SM. Perayaan tersebut bertujuan untuk menghormati dewa Lupercus. Perayaan ini terdapat sebuah upacara yang di dalamnya diselingi sebuah sesi untuk mengambil undian dengan tujuan untuk mencari pasangan.

Di lain pendapat bahwa 14 Februari 269 M telah meninggal seorang pendeta sekaligus dokter bernama Valentine yang hidup pada masa Kaisar Claudius yang sangat berambisi memiliki militer yang besar dan kuat. Ia menghendaki agar semua laki-laki bergabung dalam pasukannya. Namun sayang keinginan ini ditolak karena kebanyakan mereka enggan meninggalkan keluarga dan kekasih mereka.

Itulah sekelumit sejarah hari Valentine. 

Maka kita umat Islam tidak diperkenankan untuk berbuat hal tsb. Karena didalamnya terdapat unsur Syirik dan maksiat.

PONPES BAHRUL ‘ULUM AL-ISLAMY

Bismillahirrohmanirrohim

Anak adalah aset berharga bagi orang tua. Ia begitu bernilai manakala bermanfaat bagi keluarga dan masyarakatnya. Begitu besar impian dan harapan orang tua kepada anak-anaknya. Namun, seiring lajunya arus Teknologi dan Informasi di zaman modern ini, mereka harus memiliki benteng yang kokoh berupa agama yang menjadikan mereka memiliki kesalehan dalam agama dan kesalehan sosial sehingga dapat melindungi mereka dari dampak negatif dari kehidupan global.

Ponpes Bahrul ‘Ulum Al-Islamy sebagai Lembaga Pendidikan Islam, hampir seperempat abad telah berperan aktif dalam membantu pemerintah dalam rangka mendidik dan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tertuang dalam UUD 1945. 

Alhamdulilah, berkat do’a kaum muslimin Ponpes Bahrul ‘Ulum sampai saat ini berjalan baik dan telah memiliki alumni yang tersebar luas di berbagai penjuru tanah air. 

In Sya Allah di Tahun Ajaran 2018-2019 ini kembali membuka kesempatan bagi generasi muda Islam untuk didik menjadi generasi yang beriman, berilmu, beramal, berakhlak mulia serta cinta terhadap negaranya.

Wassalam

Muhammad Isnaini, M. Pd I

Tenggelamnya Kota Sodom

Bismillahirrohmanirrohim

Allah swt mengutus Nabi Luth As kepada penduduk kota Sodom, untuk membimbing dan menyadarkan mereka dari perbuatan maksiat dan kemungkaran yang mereka lakukan. Pencurian, perampokan dan perbuatan maksiat lainnya sudah menjadi kebiasaan dalam keseharian mereka. Lebih parahnya lagi, mereka melakukan perkawinan sejenis. Hampir seluruh kaum laki-laki hanya tertarik kepada sesamanya dan begitu juga kaum wanitanya. Sebagaimana firman Allah swt: “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?”

Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”(QS. Al- A’raf : 80-81)

Seruan Nabi Luth As tersebut sama sekali tidak mereka hiraukan, bahkan mereka sepakat untuk segera mengusir Nabi Luth As dari kota itu. Kisah ini diabadikan Allah di dalam QS. Al-A’roof Ayat 82 yang berbunyi:

“Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.”

Meskipun demikian, Nabi Luth As tetap menyeru dan mengingatkan mereka akan azab Allah swt abila perbuatan mereka tidak segera dihentikan. Peringatan itu tidak juga digubris, justru mereka menantang agar azab Allah tersebut ditimpakan kepada mereka. 

Akhirnya Nabi Luth As memohon kepada Allah swt agar menimpakan azab kepada kaumnya yang tidak lagi mendengarkan perintah Allah. Doa Nabi Luth tersebut dikabulkan Allah swt dengan sebuah gempa vulkanis yang diikuti letusan lava, kota tersebut Allah runtuhkan, lalu dijungkir balikkan masuk ke dalam laut Mati. Sebagaimana firman Allah swt:

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.”(QS. Huud:82).

Saudaraku…mari kita berusaha semampu kita untuk mentaati seruan Allah dan menjauhi larangan-Nya. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung. Aamiiin Ya Robbal’alamiin

Harta dalam Islam

ALlah swt menjadikan harta sebagai alat penghidupan bagi manusia. Pada saat bersamaan harta mulai beredar menjalankan perannya. Dan ketika itu harta mulai menjadi penghidupan, di mana ia menjadi penyalur kehendak, akan di arahkan ke kanan atau ke kiri, ke arah kebajikan atau kejahatan semua terserah kepada pemiliknya. Rasulullah saw bersabda:

إن هذاالمالَ خَضِرٌ حِلْوٌ ونعمَ صاحبُ المسلمِ هو لمن أعْطى منه المسكينَ واليتيمَ وابن السبيلِ وإنّ منيأخُذَه بغير حقِّه كمن يأكلُ ولايشْبَحْ ويكون عليه شهيدا يومَ القيامة

“Sesungguhnya harta itu sesuatu yang manis. Ia adalah kawan yang baik dan sahabat seorang muslim guna meringankan beban sesama orang miskin, anak yatim yang menderita, para musafir yang kehabisan bekal. Dan siapa saja yang mengambil harta itu secara tidak hak, maka ia bagaikan orang yang makan sebanyak-banyaknya tanpa merasa kenyang, serta harta yang diperoleh itu akan menjadi saksi kelak di hari kiamat.”

Harta itu tiang kehidupan dan jalan untuk memperoleh kebajikan dan kenikmatan serta kemajuan dalam hidup. Akan tetapi untuk memperolehnya harus melalui jalan yang mulia, dengan cara yang amanah dan terhormat. Harta itu bukan hanya sekedar digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita yang dapat membahagiakan kehidupan kita. Bahkan kelak harta itu akan menjadi saksi di hari kebangkitan kelak untuk diri kita.

Rasulullah memberikan sifat terhadap harta dengan pemberian sifat halus dan indah yaitu sesuatu yang menyilaukan sekaligus menyenangkan. Hal ini memberikan arti peringatan kandungan dan bahaya yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu, pandangan Rasulullah senantiasa tertuju pada kualitas dari harta itu sendiri, bukan pada sisi jumlahnya (kuantitas).

Rasulullah saw mengetahui dengan jelas muslihat yang terkandung di dalamnya yang dapat membinasakan karena desakan kehidupan. Betapa gaduhnya persaingan dan perlombaan yang dilakukan manusia untuk memperolehnya yang terkadang sampai menghilangkan cara berfikir yang wajar yang pada akhirnya timbul pergulatan, persaingan dan pertarungan yang tidak berkesudahan.

Rasulullah selalu mengingatkan manusia tentang keberadaan Dzat yang Maha Memiliki atas harta mereka. Dan Beliau juga senantiasa menghimbau agar manusia menjaga diri manakala harta yang diperoleh dalam arena pencarian rezeki menjadi medan pertempuran yang menghilangkan norma, adab dan tata krama hidup. Sebagaimana sabda beliau:

ياأيهاالناسُ اتقواالله وأجْمِلُوافى الطَّلَبِ فإنّ انَفساً لنْ تموتُ حتّى يَسْتَوْفِى رِزقُهَا وإنْ أَبْطَأَ عنها فااتقواالله وأجْمِلُوا فى الطالب خذُوا ماحلَّ وَدُعُوا ماحُرِّمَ

“Wahai manusia, bertaqwalah kepada Allah dan terpilihlah jalan yang baik. Sebab seseorang tidak akan mati kecuali ia telah menerima semua jatah rezekinya dengan sempurna; walaupun lambat tibanya. Karenanya, bertaqwalah kepada Allah dan tempuhlah jalan tanganku dalam mencari rezeki. Yakni, ambillah tanggalan dan tinggalkanlah yang haram.”

Segala apa yang menggambarkan hubungan antara manusia dengan harta, hendaknya manusia menempuh jalan yang baik dalam memperolehnya, yakni dengan cara yang ramah. Dan manusia juga dihimbau agar mencari kekayaan dengan mendahulukan yang halal menjauhkan diri dari yang haram.

KEIKHLASAN

Berbicara tentang keikhlasan, sesungguhnya kita membicarakan tentang aktifitas hati. Hati itu ibarat samudra yang luas tak bertepi di dalamnya terdapat berjuta hikmah dan rahasia, berjuta kebaikan dan keprihatinan, berjuta, berjuta keburukan dan kedustaan.

Di antara kebaikan yang ada di dalam hati adalah keimanan, kesabaran dan keikhlasan.

Dalam keseharian kita sering mendengar kata ikhlas. Kata ikhlas tidak semudah mengucapkannya. Seorang ulama besar Sofyan As Tsauri berkata:”Tidak ada suatu perkara yang paling berat bagiku untuk aku obati dari pada meluruskan niatku. Karena niat itu bisa berubah-ubah terhadapku.”

Maka Baginda Rasulullah saw mengajarkan sebuah doa:

اللهمّ يا مقلّب القلوب ثبّت قلبي على دينك

Doa ini diajarkan Nabi saw agar kita senantiasa diberikan keteguhan dan ketetapan hati. Karena hati ini senantiasa berbolak balik. 

Salah satu sifat yang harus kita jauhi untuk menjaga keikhlasan hati adalah sifat ujub. Berbangga diri secara berlebihan yaitu menganggap orang lain tidak lebih baik dari kita.

Sifat ini sering datang secara tiba-tiba tanpa kita sadari muncul dalam diri, sifat ini mampu menghancurkan keikhlasan.

Keikhlasan memiliki kedudukan agung dalam agama kita. Ibnu Katsir mengatakan: “Dua hal yang merupakan rukun diterimanya amalan yaitu:

1. Amalan sesuai dengan syari’at

2. Ikhlas karena Allah

Jika dua hal ini rusak, amalan tidak akan diterima. 

Di antara faedah ikhlas 

Pertama, Amalan diterima dan mendapatkan pahala  dari Allah swt. Sebagaimana firman Allah:

وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang berbuat demikian (yaitu: memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia) karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’:114).

Kedua, Meraih pertolongan dari Allah. Rasulullah saw bersabda:

 إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلاَتِهِمْ وَإِخْلاَصِهِمْ

Dari Mush’ab bin Sa’d, dari bapaknya, bahwa dia menyangka dirinya memiliki keunggulan dibandingkan para sahabat Nabi yang lainnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menolong umat ini adalah dengan sebab doa, sholat, dan keikhlasan orang-orang yang lemah dari umat ini.” (HR. An-Nasai).

Ketiga, Hati yang bersih dari dendam, hasad, dan khianat.

Dalam sebuah hadits dinyatakan, Nabi saw bersabda:

ثَلاَثٌ لاَ يُغَلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلاَصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومِ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

“Hati seorang mukmin tidak akan dimasuki dendam dengan sebab tiga perkara (yaitu) ikhlas dalam amal untuk Allah; memberi nasehat kepada para pemimpin kaum muslimin; menetapi jamaah mereka, karena sesungguhnya doa mereka meliputinya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Wallohua’lamu bi As-Showab

Jangan Merasa Paling Suci

Bismillahirrohmanirrohiim

Setan sebagai musuh yang nyata bagi manusia, tidak pernah kehabisan cara untuk menjerumuskan manusia kedalam keburukan atau perbuatan dosa.

Tipu dayanya membuat sesuatu yang sejatinya salah, seolah terlihat menjadi benar. Di antara tipu daya tersebut menjadikan manusia merasa dirinya suci dan aman dari dosa. Allah swt berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah mengetahui tentang siapa orang yang bertaqwa.”(QS. An-Najm:32)
Dalam QS. An-Nisa’  ayat 49 Allah swt mencela orang-orang yang merasa dirinya suci
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah menyucikan siapa saja yang Dia kehendaki dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.”

Rasulullah saw bersabda:

لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ

“Janganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik.”(HR. Muslim)

Saudaraku, Adakah keraguan pada diri kita, bahwa Nabi saw adalah manusia yang paling sempurna keimanannya? Sekali-kali tidak. Kita amat meyakini kesempurnaan iman beliau. Akan tetapi, kesempurnaan iman beliau tidak membuat beliau merasa dirinya suci dan bosan dalam beribadah. Meski telah dijamin surga, akan tetapi beliau tetap shalat malam hingga bengkak kakinya. Lalu bagaimana dengan kita? Masih layakkah menganggap diri kita suci?

Semoga kita semua senantiasa menjaga dan setiap amal perbuatan kita dan terhindar dari sifat sombong. Aamiiin Ya Robbal’alamiin

Bersih dalam Islam


Bersih itu indah dan merupakan syarat untuk hidup sehat. Sebaliknya kotor itu merusak keindahan serta dapat menyebabkan berbagai penyakit. Sementara penyakit dapat merusak kebahagiaan manusia. Allah swt berfirman:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Allah sangat mencintai  orang-orang yang beraubat dan orang-orang yang senantiasa membersihkan diri.”(QS.Al-Baqoroh:222)

Bahkan wahyu kedua yang turun kepada Rasulullah saw diantaranya perintah untuk senantiasa bersih. Sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’an dalam Surah Al-Muddatstsir Ayat 1-4:

يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ  (١) قُمْ فَأَنْذِرْ  (٢) وَرَبُّكَ فَكَبِّرْ. (٣)  وِثِيَابَكَ فَطَهِّرْ(٤)

“Wahai orang yang berselimut. Bangunlah lalu berilah peringatan. Dan Robb-mu Agungkanlah! Dan pakaianmu sucikankanlah”

Kata (فطهّر) tidak hanya sekedar bersih tetapi mestilah suci. Suci itu sudah pasti bersih, sementara bersih belum tentu suci. Maka, ulama-ulama fikih dalam setiap buku-buku mereka senantiasa menempatkan satu bab khusus mengenai bersuci (Thoharoh).

Begitulah Islam memandang bahwa bersih dan suci itu penting bagi setiap orang yang beriman.

Imam Gozali membagi kebersihan seorang yang beriman sebagai berikut:

  1. Bersih badaniah meliputi badan, pakaian dan tempat, seperti halnya ibadah sholat. Seorang muslim hendaklah bersih pakaian, badan dan tempat dari hadats dan najis ketika hendak melaksanakannya. Dan hal tersebut merupakan syarat sahnya ibadah tersebut. Begitu juga seorang yang junub atau berhadats besar maka ia mesti mandi untuk mensucikan dirinya.
  2. Bersih Panca Indra, memelihara pandangan, pendengaran serta anggota lainnya dari hal yang diharamkan. 
  3. Bersih Jiwa dari perbuatan syirik yaitu meyekutukan Allah swt.
  4. Bersih Qalbu dari sifat-sifat tercela seperti iri, dengki, ria, sombong dsb

Bersih yang dituntut dalam Islam tidak hanya sebatas lahiriahnya saja. Akan tetapi, bathiniyah seorang mukmin juga dituntut untuk senantiasa bersih.

Wallahu’alamu bi As Showab

Hidup Berjama’ah

Manusia adalah makhluk sosial dan ini merupakan sunnatullah bahwa manusia secara fitrahnya hidup  berjamaah. Mereka membutuhkan makhluk lainnya untuk keberlangsungan hidupnya.

Islam hadir setengah-tengah umat manusia, bukan hanya mengatur tata cara beribadah kepada Allah. Akan tetapi, Islam juga mengatur  bagaimana manusia berinteraksi dengan makhluk dan lingkungan sekitarnya.

Dalam kehidupan bermasyarakat Islam menegaskan betapa pentingnya kebersamaan itu. Hal ini dapat kita lihat dari ibadah-ibadah yang kita lakukan. Seperti sholat, puasa, zakat, haji dsb.

Dalam ibadah sholat, sholat yang dilakukan berjamaah lebih tinggi 27 derajat dari pada sholat sendirian.

Ibadah puasa, puasa adalah ibadah yang kita lakukan secara bersama- sama menahan lapar dan dahaga. Sehingga kita merasakan apa yang dirasakan oleh fakir miskin.

Zakat itu ibadah yang mengajarkan kepada kita kepedulian terhadap sesama terutama kepada fakir miskin. Dengan zakat kita dituntut untuk berbagi kepada yang lain. 

Haji merupakan ibadah pertemuan tahunan ummat  Islam sedunia. Semua ibadah di atas adalah ibadah yang menunjukkan kepada kita bertapa pentingnya hidup berjamaah.

Kehidupan berjamaah yang sempurna telah 

dicontohkan oleh baginda Rasulullah saw dengan mempersatukan kaum Muhajirin dan kaum Anshor. Persaudaraan yang terbina diantara mereka adalah persaudaraan hakiki yang berlandaskan aqidah Islam. Sehingga mereka hidup rukun, saling tolong menolong, bahu membahu, hormat menghormati serta harga menghargai diantara saudara seiman dan diantara sesama manusia.

Kebersamaan itu sangatlah penting, karena dengan berjamaah atau bersama kita dapat melakukan dan menyelesaikan banyak hal. Tidak ada yang berat bila dipikul bersama, tidak ada yang sulit bila dilakukan bersama.

Maka, Islam memerintahkan kepada kita untuk senantiasa menjaga dan memelihara kebersamaan jangan sampai terpecah belah. Sebagaimana firman Allah swt:

“Dan berpegang tergugah kamu kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imron:103)

Berjama’ah adalah jalan menuju kemuliaan ummat dan sumber kekuatan untuk memelihara keberlangsungan hidup bermasyarakat.

Kemuliaan umat Islam ini akan diraih, bila umat bersatu padu dengan menghargai perbedaan. Perbedaan dalam Islam itu rahmat bukanlah pemisah yang menjadikan masing-masing kita merasa benar yang menyebabkan kita saling menyalahkan. Apabila ini terjadi, maka semakin jatuhlah kita dari rahmat Allah swt.

Sebuah bangunan kuat, kokoh dan indah adalah karena bahan yang berbeda. Bahan yang satu dengan bahan lainnya saling menguatkan. Ada batu yang keras, ada kerikil yang kecil dan tajam, ada semen, ada besi yang kokoh serta ada pula air yang lembut sebagi pemersatu antara satu dengan lainnya.

Berjamaah adalah sumber kekuatan. Umat ini akan kuat dan akan disegani kawan maupun lawan bila kita istiqomah dalam jamaah (kebersamaan). Sudah saatnya kita saling bahu membahu, tolong menolong untuk membangun kekuatan umat dalam berbagai bidang agar terbangun kekuatan ummat. Alangkah indahnya kebersamaan, apalagi kalau kebersamaan itu berlandaskan agama ikhlas karena Allah semata.

Wallahu’alamu bi As Showab

Jangan Merasa Paling Benar

Bismillahirrohmanirrohim

Merasa diri paling benar itu boleh saja, asal apa yang dianggap benar itu dapat dipertanggung jawabkan. Bukan hanya sekedar berkata “Saya atau Kamilah yang benar!” Tanpa disertai dalil, hujjah, burhan, syawahid, bukti dan keterangan. Kalau hanya sekedar merasa paling benar, tanpa disertai dalil, hajjah dsb. Lebih baik, berhentilah! Berkoar-koar merasa diri paling benar. 

Allah swt berfirman:

“Kebenaran itu datang dari Robb-mu, maka janganlah kamu menjadi bagian orang-orang yang ragu.”

Untuk itu, hendaklah kita buang jauh-jauh perilaku merasa diri paling suci, paling lurus dan paling benar. Apalagi sampai mengada-mengadakan bukti atau dalil hasil dari rekayasa, menipu, pembodohan, akal-akalan yang di dominasi hawa nafsu untuk kepentingan pribadi, kelompok atau pun golongan. Ingatlah, Allah swt mencela perbuatan tersebut. Sebagaimana firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.”(QS. An-Nisa’:49)

Rasulullah saw bersabda:

لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ

“Janganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik diantara kalian.”(HR.Muslim)

Suatu hari Hasan al Bashri tiba-tiba terbangun di tengah malam lalu ia menangis sejadi-jadinya. Ketika ia ditanya apa yang menyebabkan dirinya menangis, ia menjawab: “Aku menangis karena aku teringat akan satu dosa.”

Hasan al Bashri yang dikenal begitu banyak ilmu dan amalnya, ternyata tidak membuat dirinya merasa paling suci. Nah, kita yang begitu banyak salah dan dosa. Masih, layakkah kita merasa paling suci, paling lurus dan paling benar?

Ibn Hazm berkata:”Barang siapa diberikan musibah berupa sifat berbangga diri, maka pikirkanlah aib dirinya sendiri. Jika semua aibnya tidak terlihat sehingga ia menyangka tidak memiliki aib sama sekali dan merasa suci. Maka ketahuilah, sesungguhnya musibah dirinya tersebut akan menimpa dirinya selamanya. Sesungguhnya ia adalah orang yang paling lemah, paling lengkap kekurangannya, dan paling besar kecacatannya.”

Allah swt tidak menyukai siapa saja dari hamba-Nya yang memiliki sifat sombong dan merasa diri paling benar, paling suci dan paling lurus. Bila terjadi perselisihan dalam suatu persoalan, maka kembalikanlah setiap persoalan itu kepada al-Qur’an dan Sunnah sebagaiman firman Allah swt:

“jika kamu berbeda pendapat tentang suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan rosul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-nissa : 59).

Kebenaran hakiki itu hanya berdasarkan wahyu yang datangnya dari Allah swt disampaikan kepada Rosul-Nya yang mulia, kemudian diajarkan Rosulullah kepada para sahabat, tabi’, tabi’ut tabi’in terus diemban oleh para ulama yang kemudian sampailah kepada kita saat ini.

Wallahu a’lamu bi as-Showab