Jangan Merasa Paling Benar

Bismillahirrohmanirrohim

Merasa diri paling benar itu boleh saja, asal apa yang dianggap benar itu dapat dipertanggung jawabkan. Bukan hanya sekedar berkata “Saya atau Kamilah yang benar!” Tanpa disertai dalil, hujjah, burhan, syawahid, bukti dan keterangan. Kalau hanya sekedar merasa paling benar, tanpa disertai dalil, hajjah dsb. Lebih baik, berhentilah! Berkoar-koar merasa diri paling benar. 

Allah swt berfirman:

“Kebenaran itu datang dari Robb-mu, maka janganlah kamu menjadi bagian orang-orang yang ragu.”

Untuk itu, hendaklah kita buang jauh-jauh perilaku merasa diri paling suci, paling lurus dan paling benar. Apalagi sampai mengada-mengadakan bukti atau dalil hasil dari rekayasa, menipu, pembodohan, akal-akalan yang di dominasi hawa nafsu untuk kepentingan pribadi, kelompok atau pun golongan. Ingatlah, Allah swt mencela perbuatan tersebut. Sebagaimana firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.”(QS. An-Nisa’:49)

Rasulullah saw bersabda:

لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ

“Janganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik diantara kalian.”(HR.Muslim)

Suatu hari Hasan al Bashri tiba-tiba terbangun di tengah malam lalu ia menangis sejadi-jadinya. Ketika ia ditanya apa yang menyebabkan dirinya menangis, ia menjawab: “Aku menangis karena aku teringat akan satu dosa.”

Hasan al Bashri yang dikenal begitu banyak ilmu dan amalnya, ternyata tidak membuat dirinya merasa paling suci. Nah, kita yang begitu banyak salah dan dosa. Masih, layakkah kita merasa paling suci, paling lurus dan paling benar?

Ibn Hazm berkata:”Barang siapa diberikan musibah berupa sifat berbangga diri, maka pikirkanlah aib dirinya sendiri. Jika semua aibnya tidak terlihat sehingga ia menyangka tidak memiliki aib sama sekali dan merasa suci. Maka ketahuilah, sesungguhnya musibah dirinya tersebut akan menimpa dirinya selamanya. Sesungguhnya ia adalah orang yang paling lemah, paling lengkap kekurangannya, dan paling besar kecacatannya.”

Allah swt tidak menyukai siapa saja dari hamba-Nya yang memiliki sifat sombong dan merasa diri paling benar, paling suci dan paling lurus. Bila terjadi perselisihan dalam suatu persoalan, maka kembalikanlah setiap persoalan itu kepada al-Qur’an dan Sunnah sebagaiman firman Allah swt:

“jika kamu berbeda pendapat tentang suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan rosul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-nissa : 59).

Kebenaran hakiki itu hanya berdasarkan wahyu yang datangnya dari Allah swt disampaikan kepada Rosul-Nya yang mulia, kemudian diajarkan Rosulullah kepada para sahabat, tabi’, tabi’ut tabi’in terus diemban oleh para ulama yang kemudian sampailah kepada kita saat ini.

Wallahu a’lamu bi as-Showab

Advertisements

Tiga Landasan Pokok

Bismillahirrohmanirrohim 

المحبّة أساس المعرفةِ والْعفّةُ علامة اليقينِ ورأس الْيقينِ التّقوى والرّضا بنقديرِ اللَّهِ

1. Cinta kepada Allah adalah landasan makrifat.

Orang yang bermakrifat kepada Allah adalah orang yang mengenal betul siapa Allah. Maka yang bersangkutan pasti akan rajin beribadah menyembah Allah. Sebab tidak dikatakan cinta tanpa pengabdian, tidak dikatakan cinta bila tiada pengorbanan, tidak dikatakan pula cinta bila tiada rindu.

2. Iffah (memelihara diri dari meminta-minta) tanda yakin kepada Allah.

Orang yang memiliki sifat iffah, pasti tidak akan mengemis dan berharap bantuan kepada manusia. Mereka adalah orang yang menjaga kehormatannya, sebab itu mereka tidak akan pernah meminta selain hanya kepada Allah semata sebagai Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki. Dalam dirinya tertanam keyakinan bahwa semua makhluk yang hidup telah ditanggung rezeki oleh Allah swt dan rezeki itu akan datang kepadanya dan memang hanya diperuntukkan Allah bagi dirinya.

3. Adapun pokok keyakinan adalah taqwa dan ridho kepada takdir Allah.

Ridho adalah merasa puas dan senang terhadap takdir yang telah ditetapkan Allah bagi dirinya. Dari hal itulah, ia tidak akan pernah mengeluh, menyalahkan atas ujian atau cobaan yang dialaminya. Sebab, ia menyakini bahwa apapun yang terjadi pada dirinya ia yakin itulah ketentuan yang terbaik dari Allah.

Wallohua’lamu bi Ash-Showab

Anak Menurut Perspektif al-Qur’an

Kehadiran anak ditengah kehidupan rumah tangga merupakan dambaan setiap orang tua. Mereka adalah tumpuan harapan yang akan meneruskan cita-cita orang tua. Namun, tak jarang anak yang semula sebagai permata hati, pelipur lara, kebanggaan orang tua menjadi sosok yang menyedihkan, mengkhawatirkan bahkan menakutkan. Maka al-Qur’an sebagai pedoman hidup seorang muslim telah memberikan pengajaran kepada setiap orang tua tentang posisi anak bagi orang tua. Pesan al-Qur’an tersebut agar kita sebagai orang tua betul-betul memberikan perhatian khusus terhadap anak-anaknya.

Kehadiran anak di tengah kegidupan rumah tangga merupakan dambaan dan kebanggaan setiap orang tua. Mereka adalah buah hati, pelipur lara, penerus cita-cita sekaligus investasi serta pelindung ketika mereka sudah dewasa dan orang tua berusia lanjut.

Namun, dalam kenyataan tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak yang sangat diharapkan kelak menjadi penyejuk hati, baik ketika hidup di dunia terlebih lagi ketika sudah tiada tidak seperti yang diharapkan justru malah membuat masalah bagi orang tuanya baik ketika di dunia maupun di akhirat. Na’udzubillah min dzalik.

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi setiap muslim memberikan pedoman buat sorang tua. Bahwa anak disamping sebagai buah hati, perhiasan dan harapan, anak juga merupakan fitnah, cobaan dan ujian. Dalam al-Qur’an anak terbagi kepada 4 tipe

1. Anak sebagai Ujian  (Fitnah), kehadiran anak itu Allah swt mencoba dan menguji manusia dengan tanggung jawab untuk merawat, mengasuh dan mendidiknya sebagai generasi penerus agar mereka kelak menajdi insan yang taqwa kepada Allah swt, sehat jasmani dan rohaninya, cerdas dan terampil serta tanggap terhadap tantangan zamannya. Apakah orang tua mampu menunaikan tanggung jawab itu? Allah swt berfirman:

وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya : ” Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”.(QS. Al-Anfal:28)

2. Anak sebagai Musuh (‘Aduwwun). Firman Allah swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَإِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya : “Hai orang-orang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(QS. At-Taghobun:14)

Bila kita membaca dan memperhatikan ayat ini, rasanya sangat mengerikan buat para orang tua. Bahwa Allah memerintahkan orangtua agar berhati-hati terhadap anak. Karena, bisa jadi anak akan menjadi musuh bagi orang tuanya. Bila sudah menjadi musuh, maka hilanglah sebahagian besar kebahagian dalam rumah tangga. Karena hiasan itu telah menjadi beban, penyebab kesedihan dan  ketakutan serta kesengsaraan. Saat anak sudah tidak lagi mendengarkan nasehat orang tua, saat anak terlibat narkoba, pergaulan bebas, tauran, menjatuhkan martabat keluarga. Saat itulah anak yang dulunya diasuh dan dirawat sebaik mungkin akan menjadi musuh yang menyedihkan dan menyengsarakan. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

3. Anak sebagai Perhiasan dunia (Zinatul Hayah). Allah swt berfirman:

أَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً

Artinya : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”(QS. Al-Kahfi:46)

4. Anak yang menyejukkan pandangan mata (Qurrota A’yun). Sebagaimana firman Allah swt:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Artinya : “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqoon:74)

Tipe anak yang keempat ini adalah orang tua yang sangat beruntung dan berbahagia memiliki anak yang tetap dalam memegang teguh nilai-nilai agama. Merekalah yang disebut ayat tersebut sebagai Qurrotu A’yun. Bisa dikatakan merekalah yang nantinya menjadi jembatan yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat nanti.

Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهُ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِذَامَاتَ ابْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّامِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْوَلَدٍصَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

Artinya:“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau do’a anak yang sholeh yang mendo’akan orang tuanya”(HR. Muslim )

Anak adalah anugrah terindah sekaligus amanah yang dititipkan Allah kepada setiap orang tua. Untuk itu, hendaknya kita sebagai orang tua memperhatikan kebutuhan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak-anak kita baik jasmani maupun rohaninya. Serta tidak kalah pentingnya juga memperhatikan lingkungan atau pergaulan anak-anak kita. Agar anak-anak kita menjadi anak yang memiliki keimanan, akhlak mulia serta berilmu pengetahuan.

Bersiaplah Menuju Akhirat

Kematian adalah gerbang awal menuju kehidupan akhirat, kehidupan yang kekal dan abadi. Setiap kita pasti akan berjumpa dan merasakan yang namanya kematian. Kematian akan menyapa siapa saja, tidak peduli kaya atau miskin, sehat atau sakit, tua atau muda, yang pasti! bila ajal menjemput seorang tidak bisa menunda kedatangannya meskipun sesaat saja.

Rasulullah pernah bersabda kepada Abu Dzar:”Wahai Abu Dzar, 

1. Perbaikilah perahumu, karena lautan itu sangat dalam.

2. Ambillah bekal yang lengkap, karena perjalanan itu sangat jauh.

3. Kurangilah beban karena rintangan itu amat sulit untuk di atasi.

4. Ikhlaslah dalam beramal, karena yang menilai baik dan buruk itu Dzat yang Maha melihat.”

Perbaikilah perahumu maksudnya adalah memperbaiki niat dalam setiap amal perbuatan agar memperoleh pahala dan selamat dari siksa Allah.

Bekal yang cukup adalah memperbanyak amal sholeh. 

Sedangkan beban yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah hal-hal yang bersifat keduniawian.

Rasulullah mengibaratkan akhirat  dengan lautan yang dalam, perjalanan yang jauh dan rintangan yang amat sulit. Sebab, akhirat adalah masa kita ditanya, masa kita bertanggung jawab setiap amal perbuatan kita dihadapan Allah swt dan juga masa di mana kita menerima hasil dari usaha dan upaya kita selama hidup di dunia. Dari hal tersebut, persiapkanlah bekal dengan memperbanyak ibadah dan amal sholeh berupa kebaikan kapan dan dimanapun kita berada. Seorang penyair berkata:

Manusia wajib bertaubat, namun meninggalkan dosa itu jauh lebih wajib lagi.

Sabar dalam menghadapi musibah itu sulit, namun hilangnya pahala sabar itu jauh lebih sulit lagi.

Perubahan suatu zaman itu memang aneh, namun kelalaian manusia lebih aneh lagi.

Peristiwa yang akan datang terasa sangat dekat, namun kematian itu lebih dekat lagi.

Maka, manusia yang paling beruntung adalah mereka yang mengetahui bahwa perjalanan yang akan ditempuh itu sangatlah jauh dan akan banyak halangan dan rintangan, maka ia membekali dirinya dengan perbekalan yang cukup.

Pentingnya Ilmu

Membekali diri dengan ilmu sehubungan dengan apa yang kita amalkan merupakan perkara penting. Rasulullah bersabda:

“Ilmu itu imamnya amal, sedang amal adalah makmumnya”

Maka, belajar akan  ilmu pengetahuan mempunyai peranan sangat penting dalam kehidupan. Dengan ilmu pengetahuan hidupnya akan menjadi mudah dan terarah. Begitu pula halnya dengan ilmu yang berkaitan dengan ibadah sebab tanpa ilmu satu amalan tidak akan sempurna bahkan amalan tersebut ditolak. Contoh: Ibadah shalat, sholat merupakan ibadah yang wajib dilakukan oleh seorang muslim. Maka, wajib hukumnya seorang muslim mengetahui ilmunya berupa syarat dan rukunnya agar sholat yang dikerjakannya sempurna.

Amal tanpa ilmu akan banyak salahnya dari pada benarnya sehingga menjadikan amalnya semakin rusak dan semakin jauh dari Allah.

Ilmu pengetahuan merupakan karunia dari Allah swt kepada manusia, Allah juga menyatakan bahwa hanya dengan ilmu, manusia mampu memahami perumpamaan yang diberikan-Nya, dalam firman-Nya:

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”(QS.Al-Ankabut:43)

Dalam mencari ilmu haruslah bertahap sedikit demi sedikit serta memulainya dengan hal-hal yang pokok, kaidah-kaidah dan ringkasan-ringkasan hingga betul-betul mengerti dan paham. 

Mengetahui batasan-batasan, hal-hal pokok akan menjadikan seseorang mampu menelaah dan mengambil keputusan setiap masalah yang mereka hadapi.

Cintailah Ilmu

Bismillahirrohmanirrohiim 

Ada dua kehausan yang tidak akan kunjung puas di dunia ini:

1. Menuntut ilmu

2. Mengejar dunia

Akan tetapi keduanya tidak sama. Ada pun orang yang mencari ilmu maka ia akan selalu mendapat ridho Allah, sedang yang mengejar kekayaan dunia akan bertambah merajalela dalam kesesatan.

Abu Laits As Samarqandi berkata, Abul Qasim Abdul Rahman bin Muhammad meriwayatkan dari Hasan al Basri berkata, saya tidak mengetahui amal yang lebih afdhal dari jihad selain mencari ilmu, maka: siapa yang keluar dari rumahnya untuk mencari dan memperlajari satu bab dari ilmu agama, maka ia dinaungi oleh malaikat dengan sayapnya, di doakan oleh burung-burung di udara dan binatang-binatang buas didaratan dan ikan-ikan di laut dan diberikan pahala oleh Allah pahala 72 orang siddiq.

Abu Dardaa’ berkata: saya mendengar Rasulullah saw bersabda, siapa berjalan di jalan untuk mencari ilmu, maka :

1. Allah akan memudahkan baginya jalan dari jalan-jalan syurga.

2. Seorang alim itu dimintakan ampun oleh semua penduduk langit dan bumi dan ikan-ikan di dalam air dan kelebihan seorang alim terhadap ahli ibadah sebagaimana kelebihan bulan purnama terhadap bintang-bintang.

3. Dan ulama itu sebagai pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan harta perak atau emas tetapi mereka mewariskan ilmu, maka siap yang mendapatkannya berarti ia telah mendapatkan bagian yang sebanyak-banyaknya.

Semoga kita menjadi orang-orang yang cinta akan ilmu. Aamiin

Cintailah Ilmu

Bismillahirrohmanirrohiim 

Ada dua kehausan yang tidak akan kunjung puas di dunia ini:

1. Menuntut ilmu

2. Mengejar dunia

Akan tetapi keduanya tidak sama. Ada pun orang yang mencari ilmu maka ia akan selalu mendapat ridho Allah, sedang yang mengejar kekayaan dunia akan bertambah merajalela dalam kesesatan.

Abu Laits As Samarqandi berkata, Abul Qasim Abdul Rahman bin Muhammad meriwayatkan dari Hasan al Basri berkata, saya tidak mengetahui amal yang lebih afdhal dari jihad selain mencari ilmu, maka: siapa yang keluar dari rumahnya untuk mencari dan memperlajari satu bab dari ilmu agama, maka ia dinaungi oleh malaikat dengan sayapnya, di doakan oleh burung-burung di udara dan binatang-binatang buas didaratan dan ikan-ikan di laut dan diberikan pahala oleh Allah pahala 72 orang siddiq.

Abu Dardaa’ berkata: saya mendengar Rasulullah saw bersabda, siapa berjalan di jalan untuk mencari ilmu, maka :

1. Allah akan memudahkan baginya jalan dari jalan-jalan syurga.

2. Seorang alim itu dimintakan ampun oleh semua penduduk langit dan bumi dan ikan-ikan di dalam air dan kelebihan seorang alim terhadap ahli ibadah sebagaimana kelebihan bulan purnama terhadap bintang-bintang.

3. Dan ulama itu sebagai pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan harta perak atau emas tetapi mereka mewariskan ilmu, maka siap yang mendapatkannya berarti ia telah mendapatkan bagian yang sebanyak-banyaknya.

Semoga kita menjadi orang-orang yang cinta akan ilmu. Aamiin

​Mengikuti Nafsu dan Melakukan Dosa

Syahwat dan dosa merupakan penyebab kerusakan hati. Allah swt berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jatsiyah:23).
Semua dosa, baik yang besar maupun yang kecil itu mengeruhkan dan merusak hati. Maka, setiap orang yang beriman wajib meninggalkan dosa lahir maupun yang batin, apalagi dosa-dosa hati yang sangat berbahaya. Di antara dosa hati yang tersembunyi adalah riya’ yang dapat merusak amal, ujub yang bisa menjadikan amal bagai abu yang bertebaran, iri, dengki, yang dapat menghapus pahala pahala kebajikan dan memperbanyak dosa.

Dosa adalah penyebab keras hati sehingga menghalangi nasehat yang diberikan sehingga tidak bisa menimbulkan kesan apapun. Bila kematian disebut, hati tidak lagi merasa ngeri dan tidak pula gentar dan tidak pula gemetar bila mendengar janji-janji balasan dari Allah. Rasulullah saw bersabda: “Yang paling jauh kepada Allah adalah hati yang keras”. Beliau juga bersabda: “Empat perkara menjadi tanda kejahatan yaitu : hati yang keras, mata yang beku, senantiasa berandai-andai dan panjang angan-angan”.

Dalam hadist lain Beliau bersabda: “ Ingatlah! Bahwa Allah tidak akan menerima doa dari hati yang lalai” 

Hati yang lalai adalah hati yang tidak tahu diri dan tidak sadar manakala diingatkan dengan petunjuk berupa perintah dan larangan Allah. Ia tidak akan pernah mengindahkan nasehat-nasehat, karena hatinya telah dibelenggu oleh sifat lalai dan lupa kepada Allah.

Wallohu’alamu bi as Sowaab

Bahaya Membiarkan Maksiat

Membiarkan perbuatan maksiat yang terjadi di depan mata tanpa adanya kepedulian sama artinya kita ikut berperan dalam kemaksiatan tersebut

Allah swt berfirman

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah diri kalian dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal [8]: 25)

Imam Ibn Katsir (w. 774 H) menyatakan bahwa ayat ini merupakan peringatan dari Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman tentang fitnah, yaitu ujian dan bencana, yang tidak hanya dikhususkan bagi ahli maksiat dan pelaku dosa saja, namun berlaku umum, terhadap orang yang melakukan kemaksiatan ataupun tidak.

Hal ini terjadi karena orang-orang yang tidak melakukan perbuatan dosa tadi tidak berupaya mencegah dan menghentikan kemaksiatan para ahli maksiat.

At-Thabari (w. 310 H) menyampaikan sebuah riwayat dari Ibn ‘Abbas tentang ayat ini, Ibn ‘Abbas berkata: “Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk tidak mendiamkan kemungkaran yang tampak di hadapan mereka, jika demikian (tetap mendiamkan) maka Allah akan menimpakan azab yang berlaku umum.”

Dari penjelasan di atas, cukup jelas buat kita bahwa ayat ini merupakan peringatan kepada kita, agar kita tidak membiarkan kemaksiatan dan kemungkaran merajalela di sekitar kita.

Jika ada yang menyatakan bahwa Allah ta’ala berfirman: wa laa taziru waaziratun wizra ukhraa (dan seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain) atau kullu nafsin bimaa kasabat rahiinah (tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya). 

Maka, menurut al-Qurthubi (w. 671 H), jawabannya adalah bahwa seseorang yang melihat kemungkaran merajalela, ia wajib mengubahnya, dan yang berdiam diri terhadap kemungkaran tersebut juga terkategori orang yang bermaksiat. Ia berdosa karena ridha terhadap kemaksiatan yang ada disekitarnya.

Kewajiban mengubah kemungkaran ini juga telah dinyatakan oleh Rasulullah saw dalam salah satu hadits shahih:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah ia dengan tangan, jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu, maka dengan hati (dengan menunjukkan ketidak ridhaan terhadap kemungkaran tersebut), dan itulah selemah-lemah iman.”

Mengenai dampak buruk dari mendiamkan kemungkaran antara lain:

1. Mendiamkan kemungkaran akan dinilai sama seperti orang yang melakukan maksiat walau tidak melakukannya secara langsung. Karena sebagaimana wajib menjauhi maksiat, maka wajib pula mengingkari orang yang melakukan maksiat.

2. Mendiamkan kemungkaran sama halnya menganggap remeh kemungkaran.

3. Mendiamkan maksiat, maka samalah artinya membiarkan perbuatan tersebut akan semakin meluas.

4. Jika orang berilmu dan paham agama mendiamkan maksiat dikhawatirkan nantinya maksiat itu dianggap bukan maksiat, parahnya nanti bisa dianggap sebagai perbuatan baik.

5. Perlu diingat bahwa perbuatan buruk itu menular